Buka konten ini


DINAS Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam langsung bergerak cepat menyusul viralnya temuan tumpukan bawang bombai dan bawang merah birma yang dibuang di kawasan Kampung Malcem, RT 02/RW 05, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Sabtu (25/10) malam. Kepala DKPP Batam, Mardanis, memastikan pihaknya telah menurunkan tim untuk mengambil sampel guna memastikan keamanan bahan pangan tersebut.
“Saya baru baca pagi ini (kemarin) dan langsung instruksikan anggota turun ke lokasi. Tim sudah mengambil sampel menggunakan alat rapid test untuk pemeriksaan awal,” ujar Mardanis, Senin (27/10).
Ia menjelaskan, pihaknya juga tengah menelusuri asal muasal bawang yang dibuang dalam jumlah besar itu. Menurutnya, setiap barang impor yang masuk ke Batam seharusnya melalui proses karantina.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Karantina. Semua barang impor semestinya dilepas melalui karantina. Makanya kami selidiki dulu jalurnya seperti apa,” jelasnya.
Mardanis mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan bahan pangan impor yang dibuang dan tidak jelas asal-usulnya.
“Kalau bawang bombai itu mahal, kok bisa dibuang banyak. Jadi kami imbau masyarakat untuk waspada karena kita tidak tahu dampaknya seperti apa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa urusan kelayakan bahan pangan berada di bawah kewenangan DKPP.
“Ini domainnya Dinas Ketahanan Pangan karena menyangkut bahan pangan. Dari sisi kesehatan, selagi bahan tersebut masih memenuhi syarat konsumsi, tidak ada masalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, yang perlu diperhatikan adalah dampak jika bawang dikonsumsi secara berlebihan. “Kalau berlebihan, bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, gas, mulas, dan refluks asam,” jelas Didi.
Warga Tetap Ramai Datang
Meski lokasi pembuangan bawang bombai dan bawang birma di Kampung Malcem telah ditimbun tanah, warga masih terus berdatangan hingga Senin (27/10). Rasa penasaran masyarakat, terutama kaum ibu-ibu, tetap tinggi setelah tumpukan “gunung bawang” itu viral di media sosial.
Fenomena tak biasa ini bermula dari penemuan tumpukan bawang dalam jumlah besar di area lembah dekat kawasan industri yang berbatasan langsung dengan permukiman warga.
Diduga, bawang tersebut dibuang oleh oknum perusahaan pada Sabtu (25/10) malam dengan jumlah mencapai ribuan kilogram. Bau menyengat yang tercium hingga ke rumah warga menambah kehebohan di kampung tersebut.
“Semalam sampai macet karena ramai orang datang. Ada yang dari Batuaji dan Sekupang, katanya mau lihat gunung bawang yang viral itu,” ujar Mustaqim, warga Kampung Malcem.
Ia menyebut, banyak warga sengaja datang hanya untuk berfoto dan melihat langsung tumpukan bawang yang sudah mulai membusuk.
Senin pagi, pihak perusahaan yang berbatasan langsung dengan lokasi pembuangan terlihat menimbun area tersebut menggunakan tanah dan material dari atas bukit. Petugas keamanan berjaga ketat dan melarang siapa pun masuk atau mengambil gambar.
“Sudah tidak ada bawang. Jangan ambil gambar atau masuk lagi,” ujar salah satu petugas dengan nada tegas kepada warga dan awak media.
Meski sudah tertutup tanah, rasa penasaran warga belum juga reda. Hingga sore hari, masyarakat dari luar Batuampar masih berdatangan ke lokasi, ingin memastikan kabar yang viral di media sosial. Sementara lainnya hanya ingin tahu apakah benar bawang sebanyak itu sengaja dibuang begitu saja.
Perangkat RT dan RW setempat mengaku tidak mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas pembuangan tersebut.
“Kami juga tidak dapat pemberitahuan apa-apa. Tahu-tahu sudah ramai orang dan baunya menyengat sekali,” kata Ahmad, salah seorang pengurus lingkungan. Warga berharap aparat segera turun tangan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kapolsek Batuampar, Kompol Amru Abdullah, membenarkan adanya temuan tumpukan bawang tersebut. Ia menyebut pihaknya telah menindaklanjuti laporan warga dengan mendatangi lokasi dan melakukan penyelidikan awal.
“Benar, kami sudah ke lokasi. Kasus ini masih dalam penyelidikan. Siapa yang membuang dan apa motifnya sedang kita dalami,” ujarnya.
Menurut Kompol Amru, pihak kepolisian juga akan memeriksa sejumlah pihak terkait, termasuk perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan pembuangan bawang tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur pelanggaran hukum, termasuk soal izin dan kelayakan penyimpanan bahan pangan impor.
Sumber di lapangan menyebut, bawang-bawang tersebut kemungkinan berasal dari gudang penyimpanan di kawasan industri sekitar lokasi. Diduga, perusahaan penyewa gudang membuangnya karena ada persoalan legalitas atau izin edar yang tidak lengkap. Namun, dugaan itu masih perlu dikonfirmasi aparat penegak hukum.
Hingga Senin siang, bau menyengat dari sisa bawang yang sempat membusuk masih terasa di sekitar permukiman warga Kampung Malcem.
Warga meminta pemerintah dan aparat terkait segera melakukan pemeriksaan lingkungan untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan akibat pembuangan bahan pangan dalam jumlah besar tersebut. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK