Buka konten ini

MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut Kota Batam berpotensi menjadi salah satu magnet investasi baru bagi perusahaan asal Tiongkok. Hal ini dipicu kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat terhadap produk impor dari Negeri Tirai Bambu, yang membuka peluang bagi Indonesia menjadi basis produksi produk berorientasi ekspor ke pasar AS.
Menurutnya, beberapa perusahaan Tiongkok telah menyatakan minat berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan orientasi ekspor.
“Mungkin karena mereka (Tiongkok) ekspor ke Amerika terganggu dengan tarif yang tinggi. Jadi, mereka bisa investasi di Indonesia, bikin pabrik di sini untuk orientasi ekspor mereka ke Amerika,” ujarnya, Kamis (14/8) di Batam.
Dia menjelaskan, strategi ini akan membuat produk yang dihasilkan di wilayah Indonesia tercatat sebagai produk asal Indonesia, sehingga tidak terkena tarif tinggi yang diberlakukan AS kepada Tiongkok.
“Kalau dia ekspor dari Tiongkok, kan, lebih tinggi. Tapi kalau investasi di sini boleh, diproduksi di sini, berarti itu produk Indonesia,” kata Budi.
Ia menilai momentum ini menjadi keuntungan strategis bagi Batam, yang memiliki posisi geografis dan infrastruktur logistik memadai untuk industri berorientasi ekspor.
Terkait kebijakan tarif Trump, kini Indonesia kembali melakukan negosiasi intensif dengan pemerintah AS. Fokus utama lobi ini adalah mendapatkan pengecualian atau penurunan bea masuk bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia.
“Sekarang kita kena (tarif Trump) 19 persen. Ada beberapa negara yang 19 persen juga, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina,” ujarnya.
Kondisi ini membuat Indonesia berada pada posisi bersaing setara. Akan tetapi, targetnya adalah memperoleh tarif yang lebih rendah dari kompetitor.
“Kalau dulu kita mengekspor bersaing dengan negara lain, tarifnya sama. Sekarang tarifnya beda. Kalau kita dikasih lebih rendah, artinya kita lebih kompetitif dan punya kesempatan lebih besar untuk ekspor ke Amerika,” katanya.
Adapun komoditas yang diusulkan untuk mendapat tarif rendah bahkan hingga nol persen antara lain minyak sawit mentah atau CPO, produk garmen, cokelat, dan alas kaki. Pemerintah juga sedang mengidentifikasi produk-produk yang tidak diproduksi AS tetapi berpotensi besar di pasarnya.
“Kita ingin mencoba juga produk-produk yang tidak diproduksi Amerika tetapi kita ekspor supaya diturunkan tarifnya, kalau bisa nol. Itu sedang kita upayakan,” ujarnya.
Budi menargetkan negosiasi ini rampung sebelum September 2025. Ia optimistis kesepakatan tersebut akan membuka pintu lebih lebar bagi produk Indonesia menembus pasar AS.
“Sekarang kita sedang menyusun perjanjiannya. Semuanya bakal tertuang dalam teks perjanjian. Rencananya sebelum September sudah selesai. Mudah-mudahan berhasil dan ini kesempatan buat kita untuk masuk ke pasar-pasar Amerika,” katanya.
Jika lobi ini berhasil, kata Budi, tidak hanya investor luar negeri seperti perusahaan Tiongkok yang akan memanfaatkan Indonesia sebagai basis produksi, tetapi juga industri lokal akan terdorong untuk meningkatkan kapasitas ekspornya ke AS.
Targetkan UMKM Tembus Pasar Dunia
Sementara itu, pemerintah pusat menaruh perhatian besar pada pengembangan sektor industri dan perekonomian di Kota Batam. Mendag Budi Santoso mengungkapkan, salah satu langkah strategis adalah mendorong peningkatan ekspor dan mendirikan fasilitas pendukung bagi pelaku usaha, khususnya UMKM.
“Kita nanti akan ada beberapa tempat yang akan dikunjungi, salah satunya perusahaan yang baru mau berdiri dengan orientasi ekspor,” ujarnya saat berkunjung ke Batam, Kamis (14/8).
Ia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai delapan persen. Salah satu penopang utama target tersebut adalah pertumbuhan ekspor yang tinggi.
“Tahun ini pertumbuhan ekspor kita ditargetkan 7,1 persen. Di bulan Juni, ekspor kita sudah naik 7,7 persen. Potensi di Batam sangat besar untuk mendukung capaian ini,” ujarnya.
Selain meninjau industri baru, pemerintah juga akan melepas ekspor produk industri dari Batam ke berbagai negara. Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan terus memberikan dukungan agar daya saing industri Batam semakin kuat di pasar global.
Langkah lain yang dilakukan adalah pendirian export center di Batam. Fasilitas serupa juga baru dibuka di Balikpapan.
“Di export center, UMKM akan diajari bagaimana membuat produk sesuai standar ekspor, mengemas dengan tepat, lalu pemerintah yang akan mencarikan pembeli. Kita punya perwakilan di 33 negara yang memang tugasnya mencari buyer (pembeli),” kata Budi.
Selain pelatihan, export center juga menggelar business matching yang mempertemukan UMKM dengan calon pembeli internasional secara daring. Cara ini dinilai efektif untuk memperluas pasar sekaligus menekan biaya promosi.
Budi memaparkan, sepanjang Januari hingga Juni 2025, transaksi business matching yang difasilitasi pemerintah telah mencapai USD90,04 juta atau setara sekitar Rp1,4 triliun. Menariknya, 70 persen pelaku UMKM yang terlibat belum pernah melakukan ekspor sebelumnya.
“Untuk Batam, ini baru awal. Targetnya, ya, sebanyak mung-kin UMKM di Batam bisa menembus pasar ekspor,” katanya. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RYAN AGUNG