Buka konten ini

Air Dohot adalah minuman khas yang identik dengan tradisi kerajaan Melayu, khususnya di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, dan Kepulauan Riau pada umumnya. Minuman klasik ini bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi memiliki nilai dan makna budaya yang mendalam.
DI tengah menjamurnya minuman kekinian dan modern, Tanjungpinang tetap mempertahankan keberadaan minuman tradisional dengan cita rasa khas yang tak tergantikan. Minuman tradisional tersebut dikenal dengan nama Air Dohot.
Minuman khas Kerajaan Riau-Lingga dan masyarakat pesisir ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang erat dengan kehidupan sehari-hari warga Melayu Tanjungpinang. Menurut penuturan masyarakat lokal, Air Dohot telah ada sejak masa Kesultanan Riau-Lingga, ratusan tahun silam.
Pada masa itu, Air Dohot tergolong sebagai minuman mewah karena hanya dapat dinikmati oleh golongan bangsawan di lingkungan istana dan disajikan sebagai penutup dalam jamuan makan. Biasanya, Air Dohot juga dihidangkan dalam upacara adat atau sebagai suguhan untuk tamu kehormatan, terutama raja atau pemimpin adat.
Air Dohot juga diyakini sebagai minuman khusus bagi para pengembara di Kepulauan Riau karena berisi berbagai macam buah yang menyegarkan di tengah perjalanan.
Minuman ini terbuat dari campuran bahan alami berupa buah-buahan kering yang memberikan rasa manis dan aroma harum yang khas. Cara pembuatannya cukup sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian agar rasa tetap seimbang. Semua bahan alami dicampur secara merata sebelum disajikan.
Air Dohot memiliki cita rasa yang khas dan unik. Bahannya terdiri atas buah dohot kering atau kurma merah yang memiliki tekstur mirip kurma kering, kelengkeng, kismis, dan buah-buahan kering lainnya. Rasa uniknya merupakan perpaduan antara manis, asam, dan segar. Warna minumannya menjadi cokelat dengan rasa yang dominan manis.
Kini, Air Dohot sering dicampur dengan es batu untuk menambah kesegarannya. Minuman ini juga memiliki tekstur lembut dan dapat langsung dikonsumsi.
Selain itu, masyarakat lokal percaya bahwa Air Dohot memiliki khasiat untuk mening-katkan energi, stamina, serta menghangatkan badan. Minuman ini juga diyakini dapat menyembuhkan panas dalam karena memberikan sensasi segar.
Hingga saat ini, kemasyhuran Air Dohot sebagai salah satu kuliner tradisional khas Melayu di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, dan Kepulauan Riau pada umumnya tetap lestari. Sebagai simbol kuliner klasik, keberadaannya perlu terus dijaga agar generasi muda Kepulauan Riau di masa mendatang tidak melupakan sejarah dan budaya leluhur.
Jadi Produk UMKM Tanjungpinang
Salah satu penjual Air Dohot, Raja Aisyah Mutia Zafira (29), mengatakan bahwa Air Dohot terbuat dari buah dohot yang berasal dari Benua Afrika. Selain itu, Air Dohot dikombinasikan dengan berbagai buah-buahan kering, terdiri atas 10 macam, di antaranya buah dohot, kelengkeng kering, buah kesemek, hingga kismis kuning.
”Jadi, untuk buah dohot sendiri sebenarnya tidak ada di Pulau Penyengat atau wilayah Kepri. Jadi harus dipesan terlebih dahulu,” ungkapnya, Senin (28/7).
Zafira menceritakan bahwa Air Dohot menjadi sajian khas Melayu di Pulau Penyengat karena pada masa kerajaan, Pulau Penyengat merupakan jalur singgah kapal-kapal dagang dari luar Kepulauan Riau. ”Dari situlah awal mulanya bahan-bahan Air Dohot didapat,” kata Zafira yang membuka usaha Air Dohot di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
Menurut Zafira, Air Dohot juga dipercaya memiliki khasiat bagi tubuh, yakni sebagai penyembuh dan pencegah panas dalam. ”Biasanya, Air Dohot ini diminum oleh para pengembara karena bersifat menyegarkan,” sebutnya.
Zafira mengaku, untuk melestarikan kuliner khas Melayu ini, ia mulai mengembangkan produk Air Dohot dan memperkenalkan cita rasanya kepada khalayak.
Kini, lanjut Zafira, minuman klasik yang dulu hanya bisa dinikmati kaum bangsawan itu telah menjadi sajian untuk tamu-tamu penting serta diperkenalkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat.
”Untuk pemasaran, kami menjadikan minuman ini sebagai ’welcome drink’ (minuman selamat datang) di Pulau Penyengat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa membuka usaha kuliner dengan produk Air Dohot adalah langkah untuk melestarikan warisan budaya Melayu sekaligus menciptakan peluang bisnis yang unik. Menurutnya, mengembangkan kuliner klasik ini tidak hanya berpotensi memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam pelestarian budaya.
”Melalui inovasi dan pemasaran yang tepat, usaha ini bisa menjadi simbol kebanggaan lokal sekaligus daya tarik wisata,” katanya.
Zafira melanjutkan bahwa minuman klasik ini tidak bertahan lama. Setelah diseduh, hanya dapat bertahan selama 30 jam atau sekitar dua hari.
”Harga antara Rp13 ribu hingga Rp20 ribu. Untuk menyiasati ketahanan, kami juga menjual buah kering siap seduh atau bisa direbus,” ungkapnya.
Zafira menegaskan bahwa Air Dohot lebih dari sekadar minuman. Ia merupakan minuman klasik yang menjadi warisan budaya kaya makna. Menikmati Air Dohot juga berarti meresapi nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Melayu.
”Minum Air Dohot jadi pengingat akan pentingnya rasa syukur,” tutup Zafira. (***)
Reporter : Yusnadi Nazar
Editor : RYAN AGUNG