Buka konten ini
Iran (BP) – Tensi ketegangan di Timur Tengah masih tinggi walaupun Iran dan Israel sudah mengumumkan gencatan senjata. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan ultimatum keras kepada Israel dan Amerika Serikat.
Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Iran, Khamenei memperingatkan bahwa semua pangkalan AS di kawasan bisa menjadi target berikutnya jika serangan brutal terhadap Gaza terus berlanjut.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan tragis dari Gaza yang kembali luluh lantak oleh serangan udara Israel pada Jumat pagi. Sedikitnya 51 orang tewas dalam serangan terbaru, termasuk 14 di wilayah utara Gaza, menurut keterangan rumah sakit yang dikutip Al Jazeera.
”Kami tidak akan diam jika kekejaman ini diteruskan. Kesabaran rakyat Iran ada batasnya,” ujar Khamenei.
Ia sekaligus memuji keberanian pasukan bersenjata Iran yang beberapa waktu lalu membalas dengan rudal ke wilayah Israel, sebuah serangan yang menewaskan sedikitnya 28 orang menurut laporan resmi.
Sementara itu, pemerintah Iran mengonfirmasi angka korban dalam negeri akibat serangan Israel mencapai 627 jiwa, dengan lebih dari 4.800 lainnya terluka.
Di sisi lain, data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban di wilayah kantong Palestina itu kini mencapai 56.156 orang tewas dan lebih dari 132.000 luka-luka sejak agresi dimulai.
Menyikapi memuncaknya konflik, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa pejabat tinggi AS dan Iran akan menggelar pembicaraan minggu depan.
Namun, langkah diplomatik itu dibayangi oleh keputusan Dewan Penjaga Revolusi Iran yang menyatakan penghentian kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sinyal keras bahwa Iran tak lagi mau tunduk pada tekanan internasional.
Tragedi juga kembali terjadi di wilayah al-Mawasi, Gaza selatan, yang oleh militer Israel sebelumnya disebut sebagai ”zona aman”.
Serangan udara Israel menghantam sebuah kendaraan sipil, menewaskan lima warga Palestina dan melukai beberapa lainnya. Al-Mawasi telah berulang kali menjadi sasaran, meski statusnya sebagai tempat perlindungan sipil. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : iman wachyudi