Buka konten ini
LONDON (BP) – Potensi kehancuran akibat perang nuklir jauh lebih cepat dan dahsyat daripada krisis iklim. Hal itu diungkapkan aktivis lingkungan asal Inggris, Mark Lynas, yang sebelumnya dikenal vokal dalam kampanye pengurangan emisi karbon untuk mengatasi krisis iklim.
Pandangan Lynas soal krisi iklim berubah setelah melakukan riset mendalam selama tiga tahun. ’’Ancaman terbesar terhadap kelangsungan umat manusia bukanlah perubahan iklim, melainkan perang nuklir global,’’ ujarnya sebagaimana dilansir The Guardian, Minggu (16/6).
Dia merujuk pada fenomena nuclear winter alias musim dingin nuklir. Yakni, kondisi global yang sangat dingin akibat asap dan jelaga hasil ledakan nuklir yang menghalangi sinar matahari.
“Musim dingin nuklir akan membunuh hampir seluruh populasi manusia. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk beradaptasi saat hal itu terjadi. Semua akan berlangsung dalam hitungan jam,” tegas Lynas.
Ancaman yang dimaksud Lynas itu bukanlah spekulasi semata. Sekitar 4 ribu hulu ledak nuklir saat ini siaga di belahan bumi utara. Siap untuk serangan pertama. Jika nuklir itu diluncurkan, kekuatan ledakan dan apinya diperkirakan bisa langsung menewaskan hingga 700 juta jiwa.
Dia menjelaskan, jelaga hasil ledakan nuklir akan terdorong ke stratosfer oleh awan pyrocumulonimbus (awan petir hasil kebakaran). Karena warnanya gelap, jelaga tersebut menyerap panas matahari, naik semakin tinggi, dan tidak bisa turun kembali.
Dengan menurunnya suhu permukaan secara drastis di bawah nol derajat Celsius dan ketiadaan panen, kehidupan manusia akan punah sebelum kondisi bumi pulih. “Saat matahari kembali dan suhu naik, semua sudah terlambat. Semua orang sudah mati,’’ tegas Lynas.
Kemungkinan skenario itu bukanlah fiksi ilmiah. Lynas mengingatkan, sejarah mencatat momen-momen dunia yang nyaris terseret ke perang nuklir, baik karena kesalahan teknis maupun eskalasi politik.
AS, misalnya, memiliki doktrin serangan pertama dan hanya butuh waktu 6 menit bagi presiden untuk memutuskan menekan tombol peluncuran jika sistem peringatan dini mendeteksi ancaman.
Rusia, di sisi lain, disebut-sebut memiliki sistem ’’dead hand’’ yang secara otomatis bisa meluncurkan rudal jika pusat komando mereka lumpuh.
Lynas menyerukan agar dunia kembali membangun gerakan antinuklir berskala global, setara dengan kampanye iklim yang ada saat ini. Dia mengakui, gerakan perdamaian pada masa lalu punya dedikasi tinggi. Namun, pendekatannya terlalu sempit secara politik. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO