Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Optimisme pelaku pasar terhadap kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi pendorong utama penguatan bursa global belakangan ini. Termasuk Indonesia. Meski demikian, euforia ini belum tentu berlanjut. Fundamental global maupun dalam negeri belum sepenuhnya solid.
”Tidak ada harapan informasi lebih bagus lagi dalam waktu dekat untuk kesepakatan dagang Tiongkok dan AS. Tidak terlalu banyak hal baru. Hanya menunggu finalisasi. Meski, sebagian pelaku pasar berpendapat tarif ini akan berlaku sampai akhir tahun,” kata analis pasar modal Hans Kwee, Minggu (18/5).
Pelaku pasar juga masih menaruh harapan terhadap kebijakan moneter AS. Menurunkan suku bunga Fed funds rate sebanyak dua kali tahun ini. Tapi nampaknya sikap Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell bakal terlihat sangat hati-hati.
Di Eropa, indeks saham mengalami kenaikan pasca pengumuman kesepakatan 90 hari AS-Tiongkok. Di sisi lain, negosiasi dagang antara AS dan Uni Eropa belum menunjukkan kemajuan berarti. Masih dibutuhkan waktu untuk mencapai kesepakatan dagang yang konkret antara keduanya.
Hans juga mencermati data perdagangan terbaru dari Tiongkok. Ekspor memang masih tumbuh. Hanya saja ekspor ke AS justru turun akibat kebijakan tarif tinggi dari Presiden Donald Trump. Kondisi ini, menciptakan peluang bagi barang-barang dari negara-negara Asia yang tidak lagi bisa masuk ke AS untuk kembali ke pasar domestik Asia.
”Tapi ada risiko terjadi tekanan pada industri dalam negeri akibat besarnya barang impor,” ungkap Hans Kwee, dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.
Untuk pasar domestik, Hans mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) telah meningkat lebih dari 18 persen sejak level terendah pada awal April. Didorong oleh masuknya kembali aliran dana asing. Namun dia menilai, ruang penguatan lanjutan relatif terbatas.
”Fundamental ekonomi global dan domestik saat ini belum sepenuhnya solid. Karena itu, IHSG berpotensi mengalami konsolidasi melemah,” ujar Hans Kwee.
Dia memperkirakan, IHSG akan bergerak dalam kisaran support di level 7.000 hingga 6.811. Serta resistance di kisaran 7.150 hingga 7.200.
Terpisah, Head of Investment Information Mirae Asset Martha Christina menuturkan, koreksi masih mungkin terjadi. Tapi terbatas. Seiring dengan positifnya kesepakatan dalam perang dagang.
”Potensi penguatan pasar saham juga mulai terbatas dengan dibayangi aksi profit taking,” ungkap Martha Christina.
Dengan sentimen perang dagang dan ancaman perlambatan ekonomi global, harga emas masih dianggap sebagai instrumen safe haven. Sehingga saham-saham terkait emas dapat dijadikan pilihan seperti ANTM, HRTA, ARCI, dan BRMS. (*)
Reporter : JP Group
Editor : gustia benny