
Antonio Conte pernah menjadi saksi tragedi ”5 Maggio”. Yaitu ketika Inter Milan kehilangan peluang merebut scudetto Serie A musim 2001–2002 pada giornata terakhir. Conte yang masih bermain sebagai gelandang Juventus berhasil mengudeta Inter untuk kemudian merengkuh scudetto pada giornata pemungkas.
Saat itu, Serie A masih menggunakan format 18 klub. Inter yang menduduki capolista (pemuncak klasemen) menghadapi SS Lazio pada giornata pemungkas (ke-34). Nerazzurri, sebutan Inter, dengan perolehan 69 poin ternyata kalah 2-4. Dalam laga lainnya, Juve menekuk Udinese 2-0 sehingga finis dengan 71 poin. Inter pada akhirnya finis ketiga karena disalip juga oleh AS Roma (70 poin).
Musim ini, Conte terseret dalam situasi serupa. Tentu bukan sebagai pemain. Sebagai allenatore SSC Napoli, Conte bersaing dengan Inter. Napoli adalah capolista yang hanya unggul satu poin (71-70) atas Inter setelah giornata ke-36 atau Serie A menyisakan dua giornata lagi.
Gap satu poin terjadi setelah Conte gagal membawa Napoli mengalahkan Genoa CFC di Stadio Diego Armando Maradona, Naples, Senin (12/5). Napoli tertahan 2-2. Beberapa jam sebelumnya di Turin, Inter membekuk tuan ruma Torino FC dengan dua gol tanpa balas.
“Kami tidak menduga akan berada dalam situasi seperti ini dalam dua giornata terakhir,” kata Conte kepada DAZN. “Semuanya masih ada di tangan kami. Aku berharap yang menjadi juara adalah klub yang pantas,” sambung Conte yang notabene pernah memberi scudetto Serie A bagi Inter pada 2020–2021.
Menilik sisa laga, Napoli tetap berada di atas angin. Parma Calcio (18/5) dan Cagliari Calcio (25/5) merupakan tim papan bawah. Sebaliknya, Inter masih menghadapi SS Lazio (18/5) yang menempati peringkat kelima dan mengejar finis empat besar atau zona Liga Champions.
Meski begitu, wingback kanan sekaligus il capitano Napoli Giovanni Di Lorenzo menyatakan bahwa hasil seri kontra Genoa berarti tidak ada laga mudah di sisa kompetisi. “Tekanan kami juga bertambah berat meski sepanjang musim kami sudah terbiasa menghadapi tekanan. Kali ini memang lebih berat,” tutur Di Lorenzo.
Dari Inter, seperti dilansir Sky Sport Italia, gelandang Piotr Zielinski menyatakan bahwa mentalitas bisa menentukan peraih scudetto musim ini. Kemenangan Inter atas Torino, kata Zielenski, adalah bukti mentalitas Nerazzurri yang tangguh.
Sebelum dikalahkan Inter, Torino unbeaten di kandang dalam sembilan laga beruntun. “Kami tidak mau banyak berbicara (tentang scudetto, red). Kami hanya memikirkan bagaimana menyulitkan Napoli dalam dua giornata terakhir Serie A,” koar Zielinski yang musim lalu masih berkostum Napoli itu. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG