Buka konten ini
BEIJING (BP) – Amerika Serikat (AS) dilaporkan membuka jalur pembicaraan dengan Tiongkok melalui berbagai saluran diplomatik guna membahas kebijakan tarif yang semakin membebani pasar global serta mengganggu rantai pasok internasional. Informasi itu kali pertama diungkap oleh Yuyuan Tantian, media yang berafiliasi dengan lembaga penyiaran nasional Tiongkok, CCTv, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia.
Langkah ini diambil menyusul pemberlakuan tarif baru dari kedua negara. Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif hingga 145 persen terhadap berbagai produk asal Tiongkok sejak April lalu. Tiongkok lalu merespons dengan memberlakukan bea masuk baru sebesar 125 persen terhadap sejumlah produk dari AS.
Trump telah menyinggung soal peluang kesepakatan dengan Beijing dalam acara town hall bersama NewsNation. ”Ada peluang sangat besar kita akan mencapai kesepakatan,” katanya. “Tapi, kami akan membuat kesepakatan itu dengan syarat kami dan itu harus adil,” imbuhnya.
Beijing Belum Menanggapi
Kementerian Luar Negeri Tiongkok belum memberikan tanggapan resmi. Meski demikian, selama ini Beijing konsisten menyangkal adanya perundingan yang sedang berlangsung.
Pihaknya tetap mendesak Washington agar bersedia berdialog secara adil, saling menghormati, dan adanya timbal balik. Bahkan, dalam sebuah video resmi yang dipublikasikan di media sosial, kementerian tersebut menegaskan, Beijing tidak akan pernah berlutut! .
Konflik tarif ini telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri global. Eskalasi perang dagang dinilai berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi, mendorong inflasi, serta memperburuk ketegangan geopolitik.
Pelaku Pasar Dunia Aktif Memantau
Oleh karena itu, sejumlah tokoh penting seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Jensen Huang, dan Mark Zuckerberg disebut aktif memantau perkembangan situasi ini karena menyadari dampaknya yang luas terhadap rantai pasok teknologi, strategi manufaktur, hingga pasar ekspor global.
Lebih jauh, tarif tinggi ini turut memperberat beban konsumen dan pelaku usaha. Tarif 145 persen membuat harga produk impor asal Tiongkok melonjak tajam di pasar AS. Hal ini tidak hanya menekan daya beli, tetapi juga menghambat efisiensi distribusi komponen penting, khususnya di sektor elektronik dan otomotif. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO