Buka konten ini
JAKART A(BP) – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus berupaya untuk menjaga kinerja operasional pada kuartal I 2025 di tengah tekanan geopolitik. PGN terus memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui optimalisasi infrastruktur dan agregasi pasokan gas bumi.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, volume penyaluran gas PGN tercatat pada tiga bulan pertama mencapai 861 BBTUD. Kemudian, angka transmisi mencapai 1.602 MMSCFD.
”Keandalan infrastruktur tetap tinggi di level 99,9 persen. Angka itu menopang layanan kepada lebih dari 820 ribu pelanggan di seluruh Indonesia,” terangnya di Jakarta, Kamis (1/5).
Dia menyebutkan bahwa kuartal ini merupakan periode konsolidasi strategi di tengah transisi pasokan energi domestik. Sesuai kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), gas pipa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri penerima HGBT. Hal tersebut mendukung daya saing industri strategis nasional.
Dia menjelaskan, pihaknya sedang mengoptimalkan pemanfaatan jasa regasifikasi LNG di Lampung, Arun, dan Jawa Barat. Hal tersebut karena pasokan gas pipa akibat penurunan produksi dari beberapa lapangan hulu di wilayah Jawa dan Sumatera yang terbatas.
Sehingga, pihaknya bisa menjaga kesinambungan pasokan energi. Khususnya, untuk sektor kelistrikan dan industri komersial lainnya termasuk pelanggan non-HGBT.
”Kami terus fokus pada efisiensi, kesinambungan pasokan gas, dan akselerasi proyek strategis. Antara lain, pengembangan jaringan gas rumah tangga serta infrastruktur LNG,” terangnya.
Dia menjelaskan, volume jasa regasifikasi melalui kontrak Terminal Usage Agreement (TUA) FSRU Lampung naik menjadi 109 BBTUD. Sementara, jasa melalui fasilitas LNG Arun mencapai 128 BBTUD. Kemudian, jasa di FSRU Jawa Barat mencapai 294 BBTUD.
PGN juga mencatat kontribusi di segmen lain. Seperti transportasi minyak sebesar 171.943 BOEPD; lifting migas sebesar 16.461 BOEPD; dan perdagangan LNG internasional sebesar 68 BBTUD.
Dari sisi keuangan, PGN membukukan pendapatan sebesar USD 967 juta. Angka tersebut tumbuh 2 persen secara year on year. EBITDA tercatat USD 205 juta dan laba bersih mencapai USD 62 juta.
”Tekanan geopolitik, fluktuasi harga minyak serta fluktuasi kurs baik IDR terhadap USD maupun JPY terhadap USD mempengaruhi profit margin. Namun, kami berhasil mengimbangi melalui penguatan operasional, optimasi dana internal dan efisiensi,” ujarnya.(*)
Reporter : JP Group
Editor : gustia benny