Buka konten ini

BATAM (BP) – Sebanyak 120 jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Karimun tiba di Pelabuhan Domestik Sekupang, Batam, Kamis (1/5) pagi. Rombongan yang menumpangi kapal Miko Natalia itu disambut petugas dari Kantor Kementerian Agama serta panitia haji daerah. Mereka langsung diarahkan ke Asrama Haji Batam untuk menjalani tahapan akhir sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.
Pantauan Batam Pos, jemaah tiba sekitar pukul 09.00 WIB. Setibanya di pelabuhan, mereka langsung diarahkan menaiki bus yang telah disiapkan. Petugas tampak sigap membantu para jemaah, termasuk mereka yang lanjut usia dan membawa banyak barang bawaan. Senyum dan semangat terpancar di wajah para jemaah yang telah menanti momen keberangkatan ini selama bertahun-tahun.
Jemaah asal Karimun ini tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 1 Embarkasi Batam. Mereka akan diberangkatkan bersama sejumlah jemaah asal Kota Batam melalui Bandara Internasional Hang Nadim pada Jumat (2/5) pukul 08.30 WIB. Penerbangan ini menjadi awal dimulainya operasional Embarkasi Batam untuk musim haji 2025.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kepulauan Riau, Zoztafia, menjelaskan bahwa Embarkasi Batam tahun ini akan melayani total 11.847 JCH dari empat provinsi, yakni Kepulauan Riau, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. “Sebanyak 1.291 jamaah berasal dari Kepulauan Riau. Mereka tersebar dalam beberapa kloter, dimulai dari Kloter 1 yang terdiri dari jamaah Karimun dan Batam,” ujar Zoztafia.
Ia menambahkan, para jemaah akan menjalani masa karantina satu malam di Asrama Haji Batam. Selama di asrama, mereka akan mengi-kuti serangkaian proses akhir, seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian gelang identitas, pengecekan dokumen, serta pembekalan teknis menjelang keberangkatan.
Menurut Zoztafia, JCH dari Provinsi Jambi hanya akan transit di Bandara Hang Nadim sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi. Sementara itu, JCH dari Kepulauan Riau, Riau, dan Kalimantan Barat akan menginap di Asrama Haji Batam sebelum diberangkatkan.
Pemberangkatan dibagi ke dalam dua gelombang. Gelombang pertama dijadwalkan berangkat dari 2-15 Mei 2025 dengan tujuan Madinah, mencakup 14 kloter. Gelombang kedua akan diberangkatkan mulai 17-31 Mei 2025 menuju Jeddah, mencakup 13 kloter.
“Seluruh kesiapan, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga layanan kesehatan dan logistik telah kami siapkan. Petugas haji daerah juga sudah diberi pembekalan untuk mendampingi jamaah selama di Tanah Suci,” tambah Zoztafia.
7.514 JCH diterbangkan ke Madinah, Arab Saudi
Sebanyak 18 kloter rombongan jemaah calon haji (JH) masuk asrama haji di hari pertama, Kamis (1/5). Dan, dini hari tadi (2/5), 7.514 CJH diterbangkan ke Madinah, Arab Saudi.
”Hari ini (kemarin) memasuki fase penting dalam penyelenggaraan haji,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Hilman Latief di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, kemarin.
Hilman menjelaskan, ke-18 kloter yang masuk asrama haji kemarin tersebar di sembilan embarkasi. Dia menambahkan, petugas di Madinah sudah siap menyambut kedatangan jemaah.
Begitu pula dengan layanan akomodasi, konsumsi, dan transportasi. Setelah tiba di bandara Madinah, mereka akan langsung ke hotel. Khusus di Madinah, lokasi hotel berada di Markaziyah yang berada di radius 500 meter dari Masjid Nabawi.
Di Madinah para jemaah akan menjalani ibadah arbain. Yaitu, salat 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Hilman berpesan, jemaah diharapkan bisa menjaga kesehatan dengan baik. Sebab, puncak haji masih panjang.
”Jemaah harap diminta tidak memforsir habis tenaga. Jemaah juga harus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi,” katanya.
Misalnya, dilarang merokok di dalam hotel. Juga, dilarang merokok di Masjid Nabawi. Jemaah juga diharap bisa berkonsultasi dengan petugas bagian bimbingan ibadah. Supaya bisa menjalankan rangkaian ibadah dengan baik.
Pelepasan haji 2025 secara resmi dipimpin Menag Nasaruddin Umar di Asrama Haji Pondok Gede pada tadi malam. Ikut melepas juga perwakilan dari Komisi VIII DPR dan lembaga terkait seperti Kemenkes, Kemenhub, serta Badan Penyelenggara Haji.
Jemaah yang akan dilepas adalah Kloter JKG-01. Setelah pelepasan, kloter tersebut terbang ke Madinah menggunakan pesawat Garuda Indonesia pada dini hari tadi sekitar pukul 00.45 WIB. ”Tahun ini ada tiga maskapai yang melayani jemaah, yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Saudia,” katanya.
Menjelang kedatangan kloter pertama jemaah haji Indonesia di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, Jumat (2/5), Kepala Daerah Kerja Bandara Abdul Basir mengingatkan CJH agar mematuhi aturan terkait barang bawaan. Itu untuk menghindari masalah di pemeriksaan imigrasi dan bea cukai Arab Saudi.
Rencananya, pada hari pertama, sebanyak 17 kloter dijadwalkan tiba. Tiga di antaranya akan mendarat di pagi hari, yakni JKG 1 (Jakarta) pukul 06.15, LOP 1 (Lombok) pukul 07.20, dan SOC 1 (Solo) pukul 09.40.
Basir menekankan pentingnya kesadaran jemaah untuk tidak membawa barang-barang yang tergolong terlarang, dibatasi, atau tidak perlu. Di antaranya adalah rokok dalam jumlah besar, obat-obatan tanpa surat keterangan dokter, serta makanan yang dibungkus berlebihan, khususnya dalam bentuk basah atau mudah rusak.
Menurut Basir, setiap tahun ada jemaah yang tidak mengetahui batasan aturan barang bawaan dan akhirnya tertahan lama di jalur pemeriksaan bandara. Hal itu tak hanya membuat jemaah kelelahan, tetapi juga bisa mengganggu alur kedatangan kloter lain, sebab bandara harus mengatur waktu kedatangan dengan sangat ketat.
”Kami mengimbau jemaah untuk membawa barang secukupnya dan sesuai aturan. Jangan ada niat menyelundupkan atau menyisipkan barang yang tidak diperbolehkan, termasuk makanan berlebihan dari rumah,” ujarnya
Pihak Daker Bandara telah menyiapkan empat titik layanan utama di Bandara Madinah untuk menyambut jemaah, termasuk zona fast track, terminal internasional, terminal haji, dan zona nol (zero). Untuk memastikan seluruh proses berjalan lancar, 140 petugas telah disiagakan dan telah mengikuti simulasi operasional.
Namun sebagus apa pun sistem dan petugas yang disiapkan, menurut Basir, semua tetap bergantung pada kedisiplinan dan kepatuhan jemaah sendiri. ”Kami sudah siapkan semuanya, tapi jangan sampai jemaah sendiri yang membuat proses jadi tersendat. Semua ada aturannya, dan kami harap jemaah patuh sejak dari tanah air,” katanya.
Dengan pengawasan ketat dari otoritas Arab Saudi dan sistem pemeriksaan yang semakin efisien, jemaah Indonesia diminta untuk menyesuaikan diri dan bersikap kooperatif demi kelancaran proses ibadah sejak dari bandara kedatangan. (*)
Reporter : RENGGA YULINDRA
Editor : RYAN AGUNG