Buka konten ini
BATAM (BP) – Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Kota Batam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, jumlah kasus hipertensi kembali meningkat pada Juni 2026 dan tetap menempati peringkat pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak.
Rekapitulasi Dinkes Kota Batam mencatat, pada Mei 2026 terdapat 6.292 kasus hipertensi, terdiri atas 2.067 pasien laki-laki dan 4.225 perempuan. Sebulan kemudian, jumlah tersebut naik menjadi 6.553 kasus, dengan rincian 2.165 laki-laki dan 4.388 perempuan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan tingginya angka hipertensi menunjukkan penyakit tidak menular masih menjadi tantangan serius di daerah tersebut. Menurutnya, hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi.
“Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa tekanan darah, menerapkan pola makan sehat, mengurangi konsumsi garam, berolahraga secara teratur, serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol,” ujarnya.
Selain hipertensi, penyakit yang paling banyak ditemukan sepanjang Juni 2026 adalah nasofaringitis akut (common cold) sebanyak 3.448 kasus. Posisi berikutnya ditempati dispepsia atau gangguan lambung dengan 2.844 kasus, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akut sebanyak 1.887 kasus, serta diabetes melitus tipe 2 sebanyak 1.738 kasus.
Adapun penyakit lain yang masuk dalam daftar 10 besar yakni infeksi saluran pernapasan atas tidak spesifik sebanyak 1.654 kasus, diare dan gastroenteritis sebanyak 903 kasus, myalgia atau nyeri otot sebanyak 878 kasus, nekrosis pulpa atau gangguan pada jaringan gigi sebanyak 847 kasus, serta abses periapikal tanpa sinus sebanyak 630 kasus.
Jika dibandingkan dengan Mei 2026, sejumlah penyakit menunjukkan tren peningkatan. Selain hipertensi, kenaikan juga terjadi pada kasus common cold, diabetes melitus tipe 2, infeksi saluran pernapasan atas tidak spesifik, myalgia, nekrosis pulpa, dan abses periapikal. Sebaliknya, jumlah kasus dispepsia, ISPA akut, serta diare dan gastroenteritis mengalami penurunan.
Didi menuturkan, tingginya kasus penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes, berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat. Karena itu, Dinkes Batam terus memperkuat langkah promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, deteksi dini di puskesmas, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Upaya pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Kami mengajak masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan di seluruh puskesmas agar risiko penyakit dapat diketahui sejak dini,” katanya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO