Buka konten ini

BEIJING (BP) – Pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Beijing menghasilkan sinyal kuat bahwa kedua negara ingin menjaga stabilitas hubungan dagang dan menghindari konflik baru di tengah ketidakpastian global.
Dalam pertemuan bilateral di Great Hall of the People, Kamis (14/5) waktu setempat, kedua pemimpin membahas sejumlah isu penting mulai dari perdagangan, perang Iran, teknologi semikonduktor, hingga Taiwan.
Xi Jinping menegaskan hubungan stabil antara Amerika Serikat dan Tiongkok penting bagi dunia internasional.
“Hubungan bilateral yang stabil baik untuk dunia. Kita harus menjadi mitra, bukan saingan,” ujar Xi.
Trump juga menunjukkan pendekatan yang lebih hangat terhadap Beijing. Di hadapan Xi, ia menyebut Presiden Tiongkok tersebut sebagai teman sekaligus pemimpin besar. “Kamu adalah pemimpin yang hebat. Suatu kehormatan menjadi temanmu,” kata Trump.
Trump bahkan menyatakan hubungan AS dan Tiongkok ke depan akan lebih baik lagu.
“Hubungan antara China dan AS akan lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Isu perdagangan menjadi fokus utama dalam pembicaraan kedua negara. Washington ingin memperluas penjualan produk Amerika seperti pesawat Boeing, energi, dan hasil pertanian ke pasar Tiongkok guna mengurangi defisit perdagangan.
Sebaliknya, Beijing meminta AS melonggarkan pembatasan ekspor teknologi chip dan semikonduktor canggih. Kedua negara juga membahas kemungkinan forum baru untuk mendukung investasi, perdagangan, serta kerja sama kecerdasan buatan atau AI.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah upaya mempertahankan gencatan perang dagang yang dicapai pada Oktober lalu. Saat itu Trump menangguhkan tarif tinggi terhadap produk Tiongkok, sementara Beijing melonggarkan pembatasan ekspor rare earth yang penting bagi industri kendaraan listrik dan pertahanan.
Selain perdagangan, konflik Iran turut menjadi perhatian dalam pembicaraan Trump dan Xi. Pemerintah AS berharap Tiongkok dapat membantu mendorong Iran mencapai kesepakatan baru dengan Washington guna meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Namun, sejumlah analis menilai Beijing kemungkinan tidak akan memberi tekanan besar terhadap Iran karena negara tersebut dianggap memiliki nilai strategis bagi kepentingan Tiongkok.
Isu Taiwan juga kembali membayangi hubungan Washington dan Beijing. Penjualan senjata AS ke Taiwan masih menjadi salah satu sumber ketegangan antara kedua negara.
Meski demikian, kunjungan Trump ke Beijing kali ini dinilai berbeda dibanding lawatannya pada 2017 lalu. Jika sebelumnya Tiongkok aktif menunjukkan pendekatan hangat dengan pembelian besar produk AS, kini posisi tawar Washington disebut tidak sekuat dulu.
Trump menghadapi tekanan politik domestik akibat perang Iran dan persoalan ekonomi di dalam negeri. Sementara Xi Jinping dinilai berada dalam posisi politik yang lebih stabil.
Meski begitu, kedua negara tampak sama-sama berkepentingan menjaga hubungan tetap kondusif demi stabilitas ekonomi global.
Sejumlah petinggi perusahaan teknologi AS juga ikut mendampingi Trump di Beijing, di antaranya Elon Musk, Jensen Huang, serta Tim Cook. Kehadiran mereka menunjukkan pasar Tiongkok masih menjadi faktor penting bagi industri teknologi Amerika.
Iran Masih Punya 70 Persen Rudal
Sementara itu, laporan intelijen AS yang dikutip The New York Times menyebut Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen potensi rudalnya meski sebelumnya menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel.
Iran juga disebut telah memulihkan akses ke sebagian besar fasilitas bawah tanah dan lokasi peluncuran rudal di sekitar Selat Hormuz.
Laporan tersebut menilai Trump dan penasihat militernya diduga melebih-lebihkan tingkat kerusakan fasilitas rudal Iran, sekaligus meremehkan kemampuan Teheran untuk bangkit kembali.
Sebelumnya, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran yang kemudian dibalas dengan serangan ke fasilitas militer AS dan wilayah Israel di Timur Tengah. Kedua pihak sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April, namun ketegangan masih terus berlangsung hingga kini. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK