Buka konten ini

STRATEGI paket wisata terpadu mulai disiapkan untuk menarik wisatawan mancanegara agar tidak sekadar singgah di Tanjungpinang. Melalui konsep tersebut, wisatawan diharapkan tertarik menginap lebih lama dan membelanjakan uangnya di ibu kota Provinsi Kepri itu.
Paket wisata yang disusun nantinya akan menghubungkan destinasi sejarah, budaya Melayu, kuliner, hingga wisata bahari dalam satu jalur perjalanan. Konsep tersebut juga dirancang terintegrasi dengan destinasi wisata di Batam, Tanjungpinang, dan Bintan.
Strategi itu disiapkan menjelang musim libur sekolah di negara tetangga yang diperkirakan akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kepulauan Riau, khususnya Tanjungpinang.
Salah satu destinasi utama yang menjadi fokus pengembangan ialah Pulau Penyengat, kawasan wisata sejarah dan budaya Melayu yang selama ini menjadi ikon pariwisata Tanjungpinang.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Tanjungpinang, Muhammad Nazri, mengatakan Batam selama ini masih menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Kepri.
Namun, peluang tersebut dinilai belum sepenuhnya memberi dampak ekonomi bagi Tanjungpinang karena sebagian wisatawan hanya melakukan perjalanan singkat.
Karena itu, pihaknya mulai mendorong kolaborasi antar pelaku industri pariwisata untuk menciptakan pola perjalanan wisata yang membuat wisatawan tinggal lebih lama di Tanjungpinang.
“Dengan paket wisata terpadu itu, wisatawan diharapkan menginap di Tanjungpinang minimal satu malam dan berbelanja,” ujar Nazri, Sabtu (9/5).
Menurutnya, peningkatan lama tinggal wisatawan akan berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi lokal. Mulai dari sektor perhotelan, rumah makan, transportasi, hingga pelaku UMKM di kawasan wisata.
Selain pengembangan paket wisata terpadu, pihaknya juga mulai memperkuat kualitas pelayanan di Pulau Penyengat untuk menyambut lonjakan kunjungan saat musim libur sekolah negara tetangga.
Nazri menyebut, secara umum kesiapan destinasi wisata Pulau Penyengat sudah cukup memadai. Meski begitu, para pelaku usaha wisata tetap diminta meningkatkan standar pelayanan kepada wisatawan.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian di antaranya ketersediaan life jacket pada transportasi pompong, penampilan penarik becak motor, hingga keterbukaan daftar harga makanan di tempat usaha kuliner.
Pembenahan pelayanan dinilai penting untuk menjaga citra pariwisata Tanjungpinang di mata wisatawan mancanegara, mengingat Pulau Penyengat merupakan salah satu ikon wisata budaya Melayu di Kepri.
“Kesiapan Pulau Penyengat dalam menghadapi libur sekolah negara tetangga sudah cukup memadai,” jelasnya.
Untuk memperkuat promosi dan kolaborasi antardaerah, pihaknya juga berencana menggelar famtrip dan audiensi bersama asosiasi serta pelaku industri pariwisata di Batam dan Tanjungpinang.
“Akan diwujudkan melalui pelaksanaan famtrip dan audiensi,” tutup Nazri. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : GUSTIA BENNY