Buka konten ini

Aroma rendang yang pekat, gurih santan, dan rempah yang tajam kini tak hanya menguar di dapur-dapur Sumatra Barat. Dari tangan seorang perempuan asal Payakumbuh yang besar di Batam, cita rasa Minang menyeberang hingga ke meja makan warga Eropa. Konsistensi rasa dan keberanian menjaga keaslian menjadi kunci, saat kuliner Nusantara perlahan mendapat tempat di pasar global.
DI sebuah dapur di Belgia, asap tipis dari olahan rendang mengepul pelan. Di sanalah, Chamelia Greeve meracik rasa kampung halaman, sebuah rasa yang membawanya jauh dari Payakumbuh, Sumatra Barat, hingga ke jantung Eropa. Perempuan yang besar di Batam, Kepulauan Riau itu, membuktikan bahwa masakan tradisional Indonesia tak kalah bersaing di panggung internasional.
Perjalanan itu bermula sederhana. Pada 2018, setelah pindah ke Belgia mengikuti sang suami, Chamelia hanya membuat jamu untuk konsumsi keluarga. Namun, dari dapur kecil itu, ia mulai memperkenalkan racikannya ke komunitas Indonesian Living in Holland. Respons positif berdatangan. Jamu buatannya bahkan mengantarkannya diundang ke berbagai acara kedutaan Belanda dan Belgia.
Dari jamu, langkahnya berkembang ke kuliner Minang. Melalui usaha bertajuk Kayo Raso Indonesian Cuisine, Chamelia mulai menawarkan menu khas seperti rendang, dendeng, gulai tunjang, gulai kikil, hingga nasi Padang. Semua disajikan dengan satu prinsip yang ia pegang teguh: autentik.
“Banyak penduduk lokal yang memakan masakan saya. Masakan yang saya jual autentik. Bahkan bumbu dan cabainya tidak dikurangi,” ujar Chamelia saat diwawancarai melalui aplikasi perpesanan, WhatsApp.
Di tengah pasar Eropa yang memiliki selera berbeda, keputusan mempertahankan cita rasa asli bukan tanpa risiko. Namun, justru di situlah daya tariknya. Pelanggan lokal penasaran, lalu jatuh hati. Bahkan, salah satu menu yang cukup diminati adalah jengkol—bahan makanan yang kerap dianggap ekstrem.
Di tangan Chamelia, jengkol diolah menjadi beragam hidangan: mulai dari semur, kalio, rendang, hingga balado cabai hijau. Sajian yang bagi sebagian orang asing terasa unik, namun perlahan menjadi favorit baru.
Sistem penjualan dilakukan secara pre order. Dari dapurnya, pesanan diantar langsung maupun dikirim lintas negara. Jejak rasa Minang itu kini sudah sampai ke Belanda, Jerman, hingga Paris.
Bagi Chamelia, keberhasilan bukan semata soal penjualan. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa dan hubungan dengan pelanggan. Konsistensi menjadi fondasi utama agar kepercayaan tetap terjaga.
Apresiasi pun datang. Usaha jamunya mendapat perhatian Retno Masuardi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia di Eropa. Sebuah pengakuan yang semakin menguatkan langkahnya.
Kini, Chamelia mulai menatap masa depan. Ia bercita-cita memperbesar rumah produksi rendang, tak hanya di Eropa, tetapi juga di Indonesia—termasuk Batam, kota yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Harapan saya ingin memperbesar rumah produksi rendang di Eropa dan Indonesia, termasuk Batam. Saya kepengin buka Kayo Raso Indonesian Cuisine di Batam. Ini peluang yang baik bagi para investor yang ingin bekerja sama,” ujarnya.
Langkah Chamelia menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar global. Dari dapur sederhana hingga lintas benua, rasa Nusantara terus menemukan jalannya. Dan dari sana, terbuka harapan bagi pelaku UMKM lain untuk berani melangkah lebih jauh—menembus batas, membawa identitas bangsa ke dunia. (***)
Reporter : JULIANA BELENCE
Editor : RATNA IRTATIK