Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan, akses terhadap pembiayaan mikro semakin menjadi penopang penting bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Skema pendanaan yang cepat dan fleksibel dinilai mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus membantu memenuhi kebutuhan mendesak, terutama bagi pekerja sektor informal yang mengandalkan penghasilan harian.
Kondisi ini tercermin dari meningkatnya penyaluran pembiayaan kepada mitra UMKM dan pengemudi melalui GrabModal by OVO Finansial, yang diklaim telah melampaui Rp6 triliun sejak diluncurkan. Lebih dari 445.000 mitra di seluruh Indonesia tercatat telah memanfaatkan akses pendanaan tersebut.
Skema cicilan yang menyesuaikan pola pendapatan harian menjadi salah satu faktor yang mendorong pemanfaatan pembiayaan ini. Bagi pelaku usaha kecil dan pekerja mandiri, fleksibilitas tersebut membantu menjaga arus kas agar tetap stabil di tengah fluktuasi pendapatan.
Di tingkat individu, pembiayaan mikro tidak hanya digunakan untuk ekspansi usaha, tetapi juga untuk kebutuhan produktif dan mendesak. Hal ini terlihat dari pengalaman Mak Netty, mitra pengemudi GrabBike sejak 2018, yang memanfaatkan pinjaman awal sekitar Rp2 juta untuk biaya pengobatan suaminya.
“Namun, ketika kondisi kesehatan suami semakin menurun, saya harus bekerja lebih keras dan lebih aktif untuk membantu biaya pengobatannya, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Mak Netty.
Selain untuk kebutuhan kesehatan, pembiayaan juga dimanfaatkan guna menjaga produktivitas kerja. Ia pernah menggunakan akses dana tersebut saat ponsel yang menjadi alat utamanya bekerja mengalami kerusakan, sehingga dapat segera kembali beroperasi tanpa kehilangan sumber penghasilan.
Meski kini menjadi tulang punggung keluarga, Mak Netty menilai akses pembiayaan membantu menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga. “Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, tidak perlu malu. Yang penting dapat membantu kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Pemanfaatan pembiayaan untuk penguatan usaha juga terlihat pada pelaku UMKM seperti Fitri Farhatani di Serang, Banten. Setelah kehilangan tabungan Rp120 juta akibat penipuan digital, Fitri memulai kembali usahanya dari skala kecil dengan modal Rp200 ribu.
“Awalnya saya berharap bisa mendapat Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Itu saja sudah cukup. Namun, usaha ini justru menjadi harapan baru bagi keluarga kami,” ujar Fitri.
Seiring pertumbuhan usaha, Fitri mulai mengakses pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pinjaman hingga Rp10 juta digunakan untuk pengadaan peralatan dan mendukung operasional, yang pada akhirnya mempercepat pengembangan usaha.
Dari sisi ekonomi, akses terhadap pembiayaan ini berperan sebagai katalis pemulihan usaha mikro. Tidak hanya membantu menjaga likuiditas, tetapi juga membuka peluang akumulasi aset.
Fitri menyebut usahanya kini mampu memulihkan kondisi keuangan keluarga hingga membeli rumah secara tunai pada 2026. “Jangan pernah takut untuk memulai. Perempuan juga harus berdaya dan percaya pada diri sendiri,” katanya.
Secara lebih luas, penyaluran pembiayaan mikro ini menunjukkan peran penting inklusi keuangan dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, khususnya di segmen UMKM dan pekerja informal. Akses yang cepat dan fleksibel memungkinkan pelaku usaha bertahan di tengah tekanan sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru.
“Boleh menangis, tetapi tetap harus berjalan,” ujar Mak Netty, menggambarkan bahwa pembiayaan tidak hanya menjadi alat ekonomi, tetapi juga penopang keberlanjutan hidup di tengah ketidakpastian. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI