Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di tengah kekhawatiran global terkait gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kecerdasan buatan (AI), CEO Nvidia Jensen Huang justru menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai adopsi AI tidak akan terjadi secara tiba-tiba.
Namun, ketika dampaknya mulai terasa, perubahan yang ditimbulkan berpotensi menggeser struktur pekerjaan secara fundamental bahkan membuka peluang lahirnya industri baru, seperti “busana robot”.
Dalam wawancara bersama podcaster Joe Rogan, Huang menolak anggapan bahwa AI akan langsung memicu lonjakan PHK secara masif dalam waktu dekat. Meski begitu, ia tidak menampik bahwa teknologi ini akan mengubah pasar tenaga kerja secara signifikan dalam jangka panjang.
Dilansir dari Fortune, Jumat (10/4), Huang menyebut dampak awal AI paling cepat dirasakan pada pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Tugas-tugas mekanis tanpa unsur analisis dinilai paling rentan tergantikan.
“Jika pekerjaan Anda hanya memotong sayuran, maka Cuisinart akan menggantikan Anda,” ujarnya.
Sebaliknya, profesi yang menuntut analisis mendalam dan pengambilan keputusan dinilai lebih sulit digantikan AI. Ia mencontohkan radiolog, yang tidak hanya membaca hasil pemindaian, tetapi juga menafsirkan temuan dalam konteks kondisi pasien.
“Mempelajari gambar hanyalah bagian dari proses untuk mendiagnosis penyakit,” katanya.
Meski demikian, Huang mengakui sebagian pekerjaan tetap akan hilang. Namun, ia tidak menggunakan istilah ekstrem seperti sejumlah tokoh AI lain, seperti Geoffrey Hinton dan Dario Amodei, yang sebelumnya memperingatkan potensi pengangguran massal akibat percepatan teknologi ini.
Menurut Huang, AI bukan hanya menggantikan pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang baru. Kebutuhan teknisi untuk membangun dan merawat sistem AI diperkirakan meningkat, sekaligus membuka industri berbasis personalisasi robot.
“Ke depan, akan ada kebutuhan untuk merancang tampilan robot, semacam ‘busana robot’, karena setiap orang ingin robotnya terlihat berbeda,” ujarnya.
Ia menilai diferensiasi identitas dalam ekosistem robotik dapat memicu ekonomi kreatif baru berbasis personalisasi mesin.
“Jadi, akan ada industri pakaian untuk robot,” tambahnya, menggambarkan peluang yang sebelumnya lebih banyak hadir dalam fiksi ilmiah.
Sejalan dengan itu, perusahaan teknologi global mulai mempercepat investasi di bidang AI dan robotika. Nvidia, melalui konferensi GTC, bahkan menempatkan konsep “AI fisik” sebagai pasar baru yang berpotensi bernilai triliunan dolar. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY