Buka konten ini

BINTAN (BP) – Krisis air di Waduk Sei Jago, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara, terus diatasi. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Kepulauan Riau menurunkan alat berat untuk menggali potensi air yang masih tersisa di waduk tersebut.
Upaya ini dilakukan agar pasokan air baku bagi masyarakat Tanjunguban tetap terjaga, meski kondisi waduk terlihat mengering.
Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPRP Kepri, Muhammad Ali Arief, mengatakan penggalian sudah dimulai sejak beberapa hari lalu.
“Tiga hari lalu, kami mulai menggali potensi air dengan membuka tali-tali air kecil agar mengalir ke kolam intake,” ujarnya di lokasi waduk, Jumat (10/4).
Menurutnya, kekeringan di Waduk Sei Jago tidak semata-mata disebabkan musim kemarau. Faktor utama justru berasal dari kerusakan infrastruktur waduk.
Ia mengungkapkan, terdapat setidaknya tiga titik kebocoran pada bendung waduk yang membuat air cepat menyusut.
“Yang menyebabkan air cepat habis itu karena kebocoran,” jelasnya.
Waduk yang dibangun sekitar tahun 1963 itu, kata Ali, sudah lama tidak mendapatkan penanganan maksimal. Perbaikan sempat dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), namun belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Berdasarkan analisis teknis, tekanan air yang tinggi diduga menyebabkan struktur bendung yang kemungkinan berbahan batu karang mengalami retak hingga bocor.
Untuk jangka pendek, selain menggali potensi air selama sekitar 12 hari, pihaknya juga berencana menambah kolam intake guna menampung lebih banyak air sebelum disalurkan ke pelanggan PDAM.
“Perhitungan kami bersama PDAM, air masih bisa dialirkan sekitar lima jam per hari ke pelanggan,” harapnya. (*)
Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor : GUSTIA BENNY