Buka konten ini

PERINGATAN Hari Autisme Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap tumbuh kembang anak dengan autisme.
Dalam siaran langsung Instagram yang digelar Kamis (2/4), Psikolog Anak RS Awal Bros Batam, Maryana, M.Psi, mengulas berbagai hal mulai dari tanda awal autisme, proses penerimaan orangtua, hingga pentingnya terapi dan pola asuh yang tepat.
Maryana menjelaskan, autisme merupakan gangguan perkembangan yang umumnya ditandai dengan hambatan pada kemampuan komunikasi, perilaku, serta interaksi sosial anak. Kondisi ini biasanya mulai disadari orangtua ketika anak memasuki usia satu hingga dua tahun.
Tanda Awal yang Perlu Diwaspadai
Menurut Maryana, salah satu tanda awal yang paling umum adalah kurangnya kontak mata dan respons anak saat dipanggil. Anak dengan autisme cenderung tidak menoleh ketika namanya dipanggil, serta menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan bicara.
Selain itu, anak juga terlihat tidak tertarik untuk bersosialisasi atau bermain bersama teman sebaya. Mereka lebih memilih bermain sendiri dan sering kali menggunakan mainan tidak sesuai dengan fungsinya. Misalnya, hanya memutar roda mobil-mobilan atau fokus pada bagian tertentu dari mainan.
“Tanda lain yang bisa diamati adalah kurangnya kemampuan meniru dan tidak adanya joint attention, seperti menunjuk objek untuk berbagi perhatian dengan orang lain,” jelasnya.

Jumlah Kasus Meningkat
Secara global, angka anak dengan autisme terus meningkat. Data terbaru menunjukkan sekitar satu dari 35 anak mengalami kondisi ini. Namun, Maryana menilai peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran orangtua dalam mengenali tanda-tanda autisme.
“Sekarang informasi mudah diakses. Orangtua jadi lebih cepat menyadari jika ada perbedaan pada tumbuh kembang anak dan segera mencari bantuan profesional,” ujarnya.
Proses Penerimaan Orangtua
Mendapatkan diagnosis autisme bukanlah hal mudah bagi orangtua. Banyak yang mengalami fase panik, penolakan (denial), hingga akhirnya menerima kondisi anak.
Maryana menekankan bahwa proses penerimaan setiap orang tua berbeda-beda. Ada yang cepat menerima dan langsung mencari solusi, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
“Autisme adalah kondisi seumur hidup. Karena itu, penerimaan menjadi langkah awal yang sangat penting agar orangtua bisa fokus pada upaya terbaik untuk anak,” katanya.
Dukungan dari komunitas atau sesama orangtua dengan kondisi serupa juga dinilai sangat membantu. Melalui berbagi pengalaman, orangtua dapat saling menguatkan dan memperoleh informasi yang bermanfaat.
Peran Orangtua Sangat Krusial
Dalam mendukung tumbuh kembang anak autisme, peran orangtua menjadi faktor utama. Maryana menyebutkan tiga hal penting, yakni penerimaan, terapi, dan pola asuh yang tepat.
Setelah menerima kondisi anak, langkah berikutnya adalah melakukan pemeriksaan dan terapi secara rutin. Terapi terbukti memberikan pengaruh signifikan, terutama jika dilakukan sejak dini.
“Anak yang mendapatkan terapi lebih awal umumnya menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan yang terlambat ditangani,” ujarnya.
Selain itu, orangtua juga harus menerapkan pola asuh yang konsisten. Anak tetap perlu dilatih untuk mandiri, seperti makan sendiri, berpakaian, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
“Jangan menganggap anak tidak mampu hanya karena memiliki autisme. Dengan latihan yang tepat, mereka tetap bisa mandiri,” tegasnya.
Pentingnya Kolaborasi Lingkungan
Keberhasilan tumbuh kembang anak autisme tidak hanya bergantung pada terapi, tetapi juga kerja sama antara orangtua, terapis, dan lingkungan sekolah.
Sekolah diharapkan mampu memberikan dukungan, termasuk menyediakan fasilitas atau pendekatan khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Namun, Maryana mengingatkan bahwa tidak semua anak autisme dapat mengikuti sekolah reguler.
“Anak dengan kemampuan intelektual yang baik masih memungkinkan untuk bersekolah di sekolah umum. Namun, bagi yang memiliki hambatan kognitif, perlu penanganan khusus,” jelasnya.
Autisme Berbeda dengan Hiperaktif
Maryana juga menegaskan perbedaan antara autisme dan hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Anak dengan ADHD umumnya memiliki kemampuan interaksi sosial yang baik, meskipun cenderung aktif berlebihan.
Sebaliknya, anak dengan autisme mengalami hambatan dalam interaksi sosial dan komunikasi, sehingga tampak kaku dalam bergaul maupun berbicara.
Selain terapi dan pendidikan, kasih sayang serta pengelolaan emosi orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dengan autisme.
Anak Autisme Tetap Mampu Merasakan Kasih Sayang
Maryana menekankan bahwa anak autisme tetap memiliki perasaan yang kuat meskipun kerap terlihat tidak ekspresif.
Maryana menjelaskan, sebagian anak autisme memang memiliki sensitivitas berbeda, termasuk tidak nyaman dengan sentuhan seperti pelukan. Namun, hal itu tidak berarti mereka tidak merasakan kasih sayang.
“Mereka tetap bisa merasakan siapa yang menyayangi mereka, terutama orang yang sering berinteraksi,” ujarnya.
Pada anak yang belum mampu berbicara (non-verbal), ekspresi kasih sayang mungkin tidak tampak secara langsung. Namun, dalam momen tertentu, anak dapat menunjukkan kepedulian secara spontan, seperti membantu orang tua atau melakukan tindakan sederhana yang menyentuh.
“Justru momen-momen seperti itu sering membuat orang tua terharu karena terasa sangat tulus dan tidak terduga,” tambahnya.
Aktivitas Sederhana di Rumah Sangat Membantu
Untuk mendukung perkembangan anak, orang tua tidak selalu harus menyediakan aktivitas khusus. Kegiatan sehari-hari justru dapat menjadi sarana terapi yang efektif.
Anak dapat dilatih melalui instruksi sederhana, seperti mengambil barang, menutup pintu, atau menyalakan lampu. Seiring perkembangan, anak juga bisa dilibatkan dalam aktivitas rumah tangga seperti memasak.
“Itu bagian dari life skill yang penting. Anak dilatih mandiri dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari,” jelas Maryana.
Pengelolaan Emosi Orangtua
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana orang tua mengelola emosi saat menghadapi anak. Maryana mengingatkan agar orang tua tidak meluapkan kemarahan kepada anak.
“Kalau sedang marah atau lelah, sebaiknya menjauh sejenak. Kelola emosi dulu sebelum berinteraksi dengan anak,” katanya.
Ia menegaskan, anak autisme tetap bisa mengingat perlakuan yang tidak menyenangkan dan merasakan dampak emosionalnya. Oleh karena itu, kesadaran diri menjadi langkah awal dalam mengendalikan emosi.
Selain itu, perasaan kecewa saat perkembangan anak terasa lambat juga kerap dialami orang tua. Dalam kondisi ini, dukungan dari komunitas atau sesama orang tua sangat dibutuhkan.
Terapi dan Konsistensi Kunci Perkembangan
Maryana menekankan pentingnya konsistensi dalam terapi, seperti terapi okupasi, terapi bicara, dan terapi perilaku (Applied Behavior Analysis/ABA).
Perkembangan anak biasanya tidak selalu linear. Ada fase kemajuan, tetapi ada juga fase stagnan yang dapat memicu rasa putus asa pada orang tua.
“Di sinilah pentingnya komunikasi antara terapis dan orang tua. Sekecil apa pun progres anak perlu disampaikan agar menjadi penyemangat,” ujarnya.
Hindari Kesalahan Umum dalam Pengasuhan
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu memanjakan anak. Rasa kasihan membuat orang tua cenderung melakukan semua hal untuk anak, sehingga menghambat kemandirian.
Selain itu, penggunaan gawai (gadget) juga perlu dibatasi. Pada anak autisme, penggunaan gadget berlebihan dapat menghambat perkembangan komunikasi dan interaksi sosial.
“Anak jadi semakin tidak tertarik berinteraksi karena sudah nyaman dengan dunia di layar,” jelasnya.
Dukungan Lingkungan dan Menghapus Stigma
Maryana mengajak masyarakat untuk lebih memahami kondisi anak autisme dan tidak memberikan stigma negatif. Edukasi di lingkungan sekolah juga penting agar anak-anak lain dapat menerima dan menghargai perbedaan.
“Kalau lingkungan memahami, potensi perundungan (bullying) bisa ditekan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga besar dan pasangan dalam membantu orang tua mencapai tahap penerimaan penuh (acceptance).
Harapan untuk Anak Autisme
Meski merupakan kondisi seumur hidup, anak dengan autisme tetap memiliki peluang untuk berkembang dan mandiri. Kuncinya adalah deteksi dini, terapi yang konsisten, serta dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan.
“Tujuan utama kita adalah membantu anak agar bisa mandiri dan menjalani kehidupannya dengan baik,” tutup Maryana.
Dengan pemahaman yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, anak dengan autisme dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GALIH ASI SAPUTRO