Buka konten ini
JAKARTA (BP) – SMA Kolese Gonzaga menggelar Gonzaga Reflective Learning Experiences Exhibitions (G-Reflex) pada 7–10 April 2026 sebagai puncak ujian praktik siswa kelas XII. Kegiatan ini menitikberatkan pada riset ilmiah sekaligus penguatan kecerdasan manusia di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI).
Ajang tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk mempresentasikan karya ilmiah dari beragam bidang, mulai dari STEAM, Internet of Things (IoT), sains, hingga isu sosial. Sebanyak 89 kelompok tampil memaparkan hasil penelitian di hadapan guru penguji, akademisi, orang tua, serta pelajar dari sekolah lain yang diundang.
Kepala SMA Kolese Gonzaga, Pater Eduard C. Ratu Dopo, menyampaikan bahwa G-Reflex merupakan bagian dari tradisi akademik sekolah yang mengedepankan refleksi serta pembelajaran bermakna, sejalan dengan Paradigma Pedagogi Ignasian.
Menurut Eduard, kegiatan ini mendorong siswa mengasah kemampuan berpikir kritis dan menjunjung tinggi integritas akademik dalam menyusun karya ilmiah. Ia menekankan bahwa di tengah kemudahan penggunaan AI, siswa tetap diarahkan untuk mengembangkan human intelligence agar mampu memahami ilmu secara utuh dan relevan.
Selain sesi presentasi, kegiatan ini juga diramaikan dengan pameran karya berupa poster infografis, roda ilmu pengetahuan, business model canvas, hingga prototipe riset STEAM yang dipajang di lingkungan sekolah.
Eduard menegaskan, proses belajar tidak semata untuk mengejar nilai atau ijazah, melainkan untuk membentuk kehidupan yang lebih bermakna, sejalan dengan semangat Ad Maiorem Dei Gloriam. Prinsip ini juga selaras dengan ungkapan Latin Vita Sine Litteris Mors Est yang menekankan pentingnya ilmu dalam kehidupan.
Melalui kegiatan ini, siswa dilatih mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, menyusun jurnal ilmiah, serta menyampaikan gagasan secara terbuka. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran reflektif yang menggabungkan aspek pengetahuan, karakter, dan kepedulian sosial.
Ke depan, Eduard berharap G-Reflex mampu memperkuat budaya riset di tingkat sekolah menengah serta menjadi contoh praktik pendidikan yang seimbang antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir manusia secara menyeluruh. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO