Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran kembali meningkat tajam setelah dugaan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon. Itu terjadi setelah Israel kembali menyerang wilayah penduduk sipil Lebanon di tengah upaya negosiasi damai.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan proses negosiasi dengan Washington tidak lagi masuk akal.
Dalam pernyataannya, Qalibaf menyebut Amerika Serikat kembali melanggar komitmen bahkan sebelum pembicaraan resmi dimulai.
“Sejak awal kami mengikuti proses ini dengan ketidakpercayaan, dan seperti yang diperkirakan, Amerika Serikat kembali melanggar komitmennya bahkan sebelum negosiasi dimulai,” ujarnya.
Ia merinci tiga poin utama yang dinilai dilanggar. Pertama, gencatan senjata di Lebanon tidak dijalankan secara menyeluruh. Kedua, pelanggaran wilayah udara Iran setelah sebuah drone dilaporkan memasuki wilayah Iran dan ditembak jatuh di Kota Lar, Provinsi Fars.
Ketiga, penolakan terhadap hak Iran untuk memperkaya uranium.
“Tiga klausul utama telah dilanggar secara terang-terangan bahkan sebelum pembicaraan dimulai,” tegasnya.
Pernyataan keras ini menguat setelah serangan besar-besaran Israel ke Lebanon yang terjadi hanya beberapa jam usai pengumuman gencatan senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon, berbeda dengan klaim Iran yang menyebut berlaku di semua front.
Serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya. Serangan menyasar kawasan padat penduduk, termasuk permukiman dan area komersial di Beirut, sehingga memicu kepanikan warga.
Pemerintah Lebanon menyebut situasi ini sebagai eskalasi berbahaya. Lebih dari 100 serangan udara dilancarkan secara serentak di berbagai wilayah, termasuk Lembah Bekaa dan Lebanon selatan.
Militer Israel menyatakan operasi tersebut menargetkan infrastruktur Hizbullah. Namun, laporan di lapangan menunjukkan banyak korban berasal dari kalangan sipil, sehingga memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di tengah memanasnya konflik, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent pada Kamis (9/4) naik sekitar 2,5 persen mendekati 97 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 16 persen sehari sebelumnya.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Laporan media Iran menyebut lalu lintas kapal tanker kembali terganggu, bahkan sejumlah kapal dilaporkan tertahan di jalur tersebut.
Sentimen pasar juga dipengaruhi kemungkinan Iran menarik diri dari gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat apabila serangan Israel terus berlanjut. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Situasi tersebut membuat prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah semakin rapuh. Jika jalur diplomasi benar-benar terhenti, eskalasi konflik berpotensi meluas dan berdampak lebih besar terhadap stabilitas global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK