Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah kini menjadi perhatian serius, termasuk bagi parlemen Indonesia. Anggota Komisi II DPR, Azis Subekti, menilai perang tersebut tidak lagi berdampak lokal, melainkan telah merambat hingga memengaruhi kondisi global.
Menurutnya, situasi dunia saat ini berada dalam kondisi rentan akibat eskalasi konflik yang kian meluas. Ia menggambarkan dampak perang tidak hanya terasa di wilayah konflik, tetapi juga menjangkau kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Azis menyebut, keputusan militer di satu kawasan kini dapat berdampak langsung pada aspek ekonomi global, seperti harga kebutuhan pokok hingga biaya transportasi. Ia menilai, realitas ini menunjukkan bahwa perang modern memiliki efek yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan publik yang mulai menganggap konflik berkepanjangan sebagai hal biasa. Padahal, menurutnya, kondisi tersebut seharusnya tidak dinormalisasi. Azis menekankan pentingnya pendekatan berbasis data untuk memahami dampak nyata perang, khususnya terhadap perekonomian.
Politikus Partai Gerindra itu mengungkapkan bahwa biaya konflik berskala besar meningkat sangat cepat. Dalam waktu singkat, pengeluaran militer bisa mencapai angka yang sangat besar dan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Sebagai contoh, ia menyinggung konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini meluas secara regional. Dalam hitungan hari, biaya yang dikeluarkan disebut telah mencapai miliaran dolar, dengan laju pengeluaran yang sangat tinggi.
Azis memperingatkan, jika konflik terus berlanjut, total biaya perang bisa menembus angka fantastis hingga triliunan dolar. Ia menilai, jumlah tersebut secara moral sulit dibenarkan, mengingat dana sebesar itu seharusnya dapat dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat global.
Ia menjelaskan, anggaran yang digunakan untuk perang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk sektor penting seperti layanan kesehatan, pengentasan kemiskinan, hingga pembangunan sosial. Namun, dalam kenyataannya, dana tersebut justru habis untuk kebutuhan militer yang bersifat destruktif.
Selain beban finansial, Azis juga mengingatkan dampak jangka panjang terhadap perekonomian dunia. Konflik berpotensi menurunkan output ekonomi kawasan, meningkatkan angka pengangguran, serta mendorong jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan.
Ancaman terhadap jalur distribusi energi global turut menjadi perhatian. Ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz dinilai dapat mengganggu pasokan minyak dunia, memicu kenaikan harga energi, dan berdampak pada inflasi global.
Ia menegaskan, perang modern tidak lagi terbatas pada wilayah konflik, tetapi membawa konsekuensi luas bagi kehidupan masyarakat dunia, termasuk mereka yang tidak terlibat langsung. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO