Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak ditetapkan secara seragam. Nominalnya dibagi ke dalam beberapa golongan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing keluarga.
Penentuan tersebut dilakukan melalui proses verifikasi data yang diisi calon mahasiswa, mulai dari kuesioner hingga dokumen pendukung. Dari data itu, pihak kampus menilai kemampuan finansial keluarga untuk menentukan besaran UKT yang harus dibayarkan.
Ada sejumlah faktor utama yang memengaruhi tinggi rendahnya UKT. Salah satunya adalah daya listrik rumah. Kapasitas listrik yang besar, seperti di atas 3.000 VA, umumnya menjadi indikator kondisi ekonomi yang lebih baik.
Sebaliknya, penggunaan listrik dengan daya kecil, seperti 450 VA hingga 900 VA, biasanya dikategorikan sebagai kelompok ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, semakin tinggi daya listrik, peluang masuk ke golongan UKT besar juga semakin tinggi.
Selain itu, kepemilikan aset turut menjadi bahan pertimbangan. Status tempat tinggal, luas bangunan, hingga jenis rumah akan diperiksa dalam proses penilaian. Tinggal di rumah milik sendiri, terutama di kawasan dengan nilai properti tinggi, dapat memengaruhi hasil penetapan UKT. Bahkan, menyewa hunian di lingkungan elit juga bisa berdampak pada besaran biaya kuliah.
Faktor paling menentukan tetap berasal dari penghasilan orang tua. Gaji, jenis pekerjaan, serta jumlah tanggungan keluarga akan dihitung secara menyeluruh. Orang tua dengan pekerjaan tetap dan pendapatan stabil cenderung masuk dalam kategori ekonomi yang lebih tinggi, sehingga berdampak pada besaran UKT.
Untuk memastikan keakuratan data, pihak kampus juga melakukan verifikasi berkas secara rinci. Dokumen seperti tagihan listrik, STNK kendaraan, hingga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menjadi acuan untuk mencocokkan informasi yang diberikan.
Jika ditemukan ketidaksesuaian atau indikasi kemampuan ekonomi lebih tinggi, maka UKT yang ditetapkan bisa meningkat.
Penentuan UKT tidak hanya bertumpu pada satu aspek, melainkan hasil penilaian dari berbagai indikator kondisi ekonomi keluarga. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO