Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase krusial setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak menunda serangan militer ke Iran selama dua pekan. Namun, di balik jeda tersebut, situasi di lapangan justru menunjukkan tanda-tanda rapuhnya upaya deeskalasi.
Keputusan penundaan itu diumumkan hanya sesaat sebelum ultimatum militer berakhir.
Trump menyebut langkah tersebut diambil untuk memberi ruang diplomasi, dengan syarat utama Iran harus segera membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia.

“Dengan syarat Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman, saya setuju menangguhkan serangan selama dua minggu,” tulis Trump, Selasa (7/4).
Langkah ini disebut merupakan hasil komunikasi dengan pemerintah Pakistan yang berperan sebagai mediator. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif bahkan mengklaim seluruh pihak telah menyepakati gencatan senjata sementara.
Dari pihak Iran, sinyal positif juga mulai terlihat. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan kesiapan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua minggu, dengan koordinasi militer.
“Jalur aman akan dibuka selama dua minggu sebagai bagian dari proses menuju negosiasi,” ujarnya.
Kesepakatan ini membuka jalan bagi perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad mulai Jumat (10/4). Iran disebut telah mengajukan proposal 10 poin yang dinilai Washington sebagai dasar yang “layak dibahas”.
Namun, di tengah upaya diplomasi tersebut, situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Israel, sekutu utama Amerika Serikat, dilaporkan tetap melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Seorang pejabat keamanan Israel menyebut operasi militer masih berlangsung meski gencatan senjata diumumkan.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar terkait konsistensi dan efektivitas kesepakatan deeskalasi yang sedang dibangun.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan tetap melakukan serangan balasan, termasuk peluncuran rudal ke wilayah Israel, bahkan saat gencatan senjata seharusnya mulai berlaku.
Ketidaksinkronan antara pernyataan politik dan realitas militer ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata dua pekan masih sangat rentan.
Selat Hormuz menjadi titik paling krusial dalam konflik ini. Jalur tersebut merupakan rute utama bagi hampir seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan sebagian jalur ini sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi global.
Pengumuman penundaan serangan langsung berdampak pada pasar. Harga minyak yang sempat melonjak tajam kini mengalami penurunan, mencerminkan respons positif sementara dari pelaku pasar terhadap peluang diplomasi.
Meski demikian, para analis menilai stabilitas belum sepenuhnya terjamin. Gangguan kecil di Selat Hormuz saja berpotensi kembali mengguncang pasar energi global.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari lima minggu ini juga telah meluas ke berbagai wilayah, termasuk Lebanon dan kawasan Teluk, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang.
Dalam situasi tersebut, jeda dua pekan dipandang sebagai momentum penting. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada komitmen semua pihak untuk benar-benar menahan diri dan membuka ruang dialog.
Jika tidak, gencatan senjata ini dikhawatirkan hanya menjadi jeda singkat sebelum eskalasi yang lebih besar kembali terjadi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK