Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino, khususnya di sektor kesehatan.
Menurut dia, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk menekan potensi lonjakan kasus penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem.
Edy menjelaskan, El Nino yang identik dengan musim kemarau berkepanjangan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Di antaranya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, serta penyakit lainnya.
“Kita harus siap sejak awal. Dampak El Nino tidak hanya soal kekeringan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4).
Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan yang proaktif, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, agar dampak El Nino tidak meluas.
Salah satu upaya yang didorong adalah penguatan layanan kesehatan primer di berbagai fasilitas kesehatan.
“Puskesmas dan fasilitas kesehatan harus disiapkan, termasuk tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan, serta alat pelindung seperti masker,” tegasnya.
Selain itu, Edy juga mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup sehat selama musim kemarau. Edukasi tersebut mencakup pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh serta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Ia menambahkan, koordinasi antarlembaga menjadi kunci dalam menghadapi fenomena ini, terutama antara Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya.
“Jangan sampai terlambat merespons. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa diminimalkan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, di Indonesia, El Nino menyebabkan penurunan curah hujan di seluruh wilayah Indonesia pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON).
Pada bulan Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino mempengaruhi pada penurunan curah hujan di Indonesia bagian tengah dan timur. Sedangkan pada Maret-April-Mei (MAM) curah hujan sangat beragam di berbagai wilayah di Indonesia.
Fenomena ini dapat mempengaruhi pada menurunnya curah hujan di Indonesia, terutama pada periode JJA dan SON hingga lebih dari 40 persen. Tapi, beberapa wilayah Indonesia dapat mengalami peningkatan di periode DJF dan MAM.
Akibatnya, kita dapat mengalami bencana seperti kekeringan dan kebakaran hutan. Hal ini dapat mempengaruhi pertanian hingga perekonomian kita. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK