Buka konten ini

WAKIL Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic, mengingatkan potensi meningkatnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seiring lonjakan harga minyak mentah dunia. Ia meminta pemerintah terbuka, terutama terkait kekuatan fiskal dalam menanggung tambahan subsidi energi.
Dolfie menjelaskan, apabila harga minyak dunia rata-rata menyentuh USD 100 per barel, maka setiap kenaikan USD 1 akan menambah beban subsidi sekitar Rp6,8 triliun. Dengan asumsi lonjakan dari USD 70 ke USD 100 per barel, total tambahan beban negara diperkirakan mencapai Rp204 triliun.
“Jika selisihnya 30 dolar, totalnya bisa mencapai Rp204 triliun,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memaksa pemerintah menambah belanja negara dalam jumlah besar, terutama untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.
Ia menekankan pentingnya langkah antisipatif, khususnya dalam menjaga ruang fiskal APBN agar tetap memadai. Dolfie juga meminta Kementerian Keuangan Republik Indonesia memberikan penjelasan rinci kepada publik terkait sumber pembiayaan tambahan subsidi tersebut.
Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kebutuhan kompensasi BBM bisa mencapai sekitar Rp150 triliun. Meski demikian, ia menilai tambahan beban tersebut masih dapat dikelola.
Namun, transparansi pemerintah dinilai menjadi kunci penting untuk menjaga kepercayaan publik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Kami perlu penjelasan jelas terkait kemampuan APBN dan ruang fiskal yang tersedia untuk menghadapi tambahan belanja ini,” tegasnya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO