Buka konten ini

PERNAH menjumpai seseorang berusia 40 hingga 50 tahun, tetapi penampilannya masih seperti di usia 30-an? Fenomena ini kerap memicu rasa penasaran: apakah semata faktor keturunan, hasil perawatan mahal, atau ada hal lain yang berperan?
Sejumlah kajian dalam psikologi dan ilmu perilaku menunjukkan bahwa kesan awet muda tidak hanya ditentukan faktor biologis. Kebiasaan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan pola pikir dan gaya hidup, justru memiliki pengaruh besar.
Menariknya, mereka yang terlihat lebih muda umumnya menjauhi sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari dapat mempercepat proses penuaan, baik dari sisi fisik maupun mental. Mengutip Expert Editor, berikut lima kebiasaan yang cenderung dihindari:
1. Terlalu Larut dalam Stres dan Hal di Luar Kendali
Stres berkepanjangan menjadi salah satu pemicu utama penuaan dini. Saat seseorang terus memikirkan hal yang tidak bisa dikendalikan, tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebih. Dampaknya bisa merusak kondisi kulit, mengganggu tidur, hingga menurunkan daya tahan tubuh.
Sebaliknya, mereka yang tampak lebih muda cenderung lebih bijak menyaring hal yang perlu dipikirkan. Mereka menerima keterbatasan kendali dan memilih fokus pada hal yang bisa diubah.
2. Mengabaikan Kebutuhan Tidur
Kurang tidur tidak hanya membuat wajah terlihat lesu, tetapi juga berdampak pada kondisi emosional dan mental. Tidur berperan penting dalam menjaga keseimbangan emosi, memulihkan fungsi otak, serta menstabilkan hormon.
Orang yang awet muda biasanya menjaga kualitas istirahat dengan baik, memiliki jadwal tidur teratur, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, dan memberi waktu tubuh untuk pulih secara optimal.
3. Terjebak Pola Pikir Negatif
Kebiasaan berpikir negatif secara terus-menerus dapat mempercepat penuaan secara tidak langsung. Sikap mudah mengeluh, menyalahkan diri, atau selalu melihat sisi buruk akan meningkatkan tekanan psikologis.
Sebaliknya, individu yang tampak lebih muda cenderung memiliki sikap optimis yang realistis. Mereka memandang masalah sebagai tantangan dan tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kemampuan ini dikenal sebagai resiliensi mental.
4. Minim Aktivitas Fisik
Gaya hidup pasif tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis. Kurangnya gerak sering dikaitkan dengan rendahnya energi dan motivasi.
Sebaliknya, mereka yang terlihat lebih muda cenderung aktif, meski hanya melalui aktivitas ringan seperti berjalan kaki. Kebiasaan ini membantu meningkatkan hormon endorfin yang berperan dalam menjaga suasana hati tetap positif.
5. Mengabaikan Hubungan Sosial
Kurangnya interaksi sosial yang sehat dapat memicu rasa kesepian dan berdampak pada kesehatan mental. Padahal, hubungan sosial merupakan salah satu faktor penting dalam kesejahteraan hidup.
Orang yang awet muda umumnya menjaga hubungan yang hangat dengan keluarga dan teman, serta menghindari relasi yang berdampak negatif. Interaksi yang positif terbukti membantu mengurangi stres dan meningkatkan kebahagiaan.
Tampilan awet muda ternyata tidak hanya ditentukan oleh perawatan dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh cara seseorang menjalani hidup. Pola pikir, kebiasaan, dan respons terhadap berbagai situasi memiliki peran besar dalam proses penuaan.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut dapat dipelajari dan diubah. Semakin cepat disadari, semakin besar peluang untuk tetap sehat, segar, dan terlihat muda lebih lama. Pada akhirnya, awet muda bukan sekadar soal usia, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani hidupnya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO