Buka konten ini

BATAM (BP) – Kinerja ekspor Batam pada awal 2026 mengalami koreksi. Namun, daya tahan sektor industri dinilai masih terjaga di tengah tekanan global.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepulauan Riau (Kepri), Mustava, menyebut nilai ekspor Batam pada periode Januari–Februari 2026 mencapai sekitar USD 3,11 miliar. Angka tersebut turun 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 3,22 miliar.
Meski menurun, kondisi ini belum mencerminkan pelemahan menyeluruh.
“Basis industri ekspor Batam masih bergerak dan memiliki kekuatan pada beberapa kelompok produk utama,” ujar Mustava, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, sejumlah sektor justru mencatat pertumbuhan, di antaranya mesin dan peralatan listrik, minyak dan lemak hewani atau nabati, tembakau, produk kimia, perangkat optik, serta bahan kimia organik.
Sebaliknya, penurunan ekspor terutama disumbang komoditas kapal laut, kakao atau cokelat, besi dan baja, serta mesin dan pesawat mekanik.
Dari sisi pasar, kontraksi paling dalam terjadi pada ekspor ke Australia yang turun sekitar 68 persen, serta Vietnam sekitar 25 persen.
“Penurunan ini lebih dipengaruhi oleh beberapa komoditas dan pasar tertentu, bukan seluruh sektor,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, ekspor ke Amerika Serikat justru menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, ekspor ke negara tersebut tumbuh sekitar 30 persen dan tetap menjadi tujuan utama.
“Artinya, pasar Amerika masih kuat bagi Batam,” tambahnya.
Ia menegaskan, penurunan ekspor Batam pada awal tahun ini bukan disebabkan oleh melemahnya pasar Amerika Serikat, melainkan lebih karena turunnya ekspor kapal laut dan kakao yang terkoreksi cukup dalam.
“Secara umum kondisi ekspor masih cukup terjaga dan banyak sektor tetap tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota
Batam menunjukkan tren serupa. Kepala BPS Batam, Eko Aprianto, menyebut nilai ekspor Januari–Februari 2026 tercatat USD 3,11 miliar, atau turun 3,67 persen secara tahunan.
Penurunan tersebut dipicu melemahnya ekspor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas turun tipis, sementara migas mengalami penurunan lebih dalam.
Namun, secara bulanan kinerja ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Pada Februari 2026, nilai ekspor Batam mencapai USD 1,51 miliar, naik 4,4 persen dibandingkan Februari tahun lalu.
Kenaikan ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh lebih dari 5 persen, sementara ekspor migas masih terkontraksi.
Dari sisi komoditas, ekspor Batam masih didominasi sektor industri. Mesin dan peralatan listrik menjadi penyumbang terbesar, disusul mesin dan pesawat mekanik, minyak dan lemak nabati, serta besi dan baja.
Selain itu, produk kimia, kapal laut, tembakau, kakao, perangkat optik, hingga bahan kimia organik juga turut berkontribusi.
Di tengah tekanan tersebut, ekspor ikan dan udang mencatat pertumbuhan signifikan, naik lebih dari 30 persen, menjadi salah satu sinyal positif.
Dengan kondisi tersebut, kinerja ekspor Batam dinilai masih cukup terjaga, meski menghadapi tantangan dari sejumlah komoditas dan pasar tujuan tertentu. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK