Buka konten ini

POLA kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) kembali diberlakukan pemerintah, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sejak April ini, ASN mendapat kesempatan bekerja dari rumah setiap Jumat sebagai bagian dari upaya efisiensi energi.
Bagi sebagian pekerja, skema ini bukan hal baru. WFH sudah menjadi bagian dari ritme kerja, baik untuk mengurangi tekanan di awal pekan maupun menutup hari kerja dengan suasana lebih santai.
Namun, bekerja dari rumah bukan tanpa tantangan. Lingkungan rumah yang dinamis—mulai dari aktivitas keluarga hingga kebisingan—kerap mengganggu fokus. Karena itu, penataan ruang menjadi faktor penting agar produktivitas tetap terjaga.
Interior Design Manager IKEA Indonesia, Melina Ardianti Hadiatmodjo, menilai cara pandang terhadap WFH kini mulai berubah. Jika sebelumnya WFH dilakukan karena terpaksa, kini justru menjadi momen fleksibel yang perlu disesuaikan dengan kondisi rumah.
“Dulu WFH sifatnya darurat, jadi ruang apa pun bisa dipakai. Sekarang lebih ke fleksibilitas, sehingga ritme rumah yang harus diikuti, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak orang sebenarnya sudah memiliki sudut kerja di rumah, meski sederhana. Hanya saja, aspek kenyamanan jangka panjang sering diabaikan.
Menurutnya, bekerja di tempat tidur sebaiknya dihindari karena memicu rasa kantuk. Posisi duduk juga perlu diperhatikan agar tubuh tetap nyaman, misalnya dengan tambahan bantal atau meja lipat sebagai penopang.
“Para ibu biasanya lebih cepat beradaptasi. Mereka bisa membedakan fungsi ruang dengan baik. Tinggal memastikan kursi dan meja yang digunakan sudah cukup mendukung,” tambahnya.
Agar WFH lebih nyaman, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan:
Pertama, tentukan sudut kerja yang mendukung konsentrasi. Tak perlu ruang khusus, cukup manfaatkan area kecil dengan pencahayaan baik dan kursi yang nyaman.
Kedua, buat pembatas antara area kerja dan ruang santai. Penanda visual seperti karpet atau meja lipat bisa membantu otak beralih ke mode kerja.
Ketiga, perhatikan pencahayaan. Cahaya alami menjadi pilihan terbaik, namun lampu tambahan juga bisa digunakan untuk mengurangi silau dan meningkatkan fokus.
Keempat, atur posisi duduk agar tidak cepat lelah. Gunakan penopang punggung dan sesekali ubah posisi untuk mengurangi ketegangan.
Kelima, kelola kebisingan. Gunakan tirai, karpet, atau headset untuk meredam suara, serta atur waktu kerja di momen yang lebih tenang.
Keenam, jaga kerapian area kerja. Gunakan hanya barang yang diperlukan dan manfaatkan penyimpanan sederhana agar ruang tetap rapi.
Terakhir, bangun rutinitas kecil sebagai penanda waktu kerja. Misalnya dengan menata meja sebelum mulai dan merapikannya setelah selesai.
Dengan penataan yang tepat, WFH bukan sekadar memindahkan pekerjaan ke rumah, melainkan menjadi cara kerja baru yang tetap selaras dengan kenyamanan hidup sehari-hari. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO