Buka konten ini
BATUAMPAR (BP) – Memasuki hari ke-70 gangguan suplai air bersih di Kelurahan Tanjung Sengkuang dan Batu Merah, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, ribuan warga masih bergantung pada distribusi air melalui mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi krisis yang belum berakhir membuat kegiatan monitoring pendistribusian air bersih terus dilakukan setiap hari di dua kelurahan tersebut. Pengawasan ini bertujuan memastikan penyaluran air berjalan lancar dan tepat sasaran bagi masyarakat terdampak.
Kapolsek Batuampar Kompol Amru Abdullah menegaskan, pihaknya terus melakukan pengawalan agar distribusi air tetap tertib dan merata.
“Kami memastikan pendistribusian air bersih ini berjalan optimal, sehingga seluruh warga yang terdampak bisa mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran personel kepolisian di lapangan juga untuk menjaga situasi tetap kondusif selama proses distribusi berlangsung. “Selain mengawasi, kami juga memberikan rasa aman kepada masyarakat serta mencegah potensi gangguan,” katanya.
Berdasarkan data di lapangan, distribusi air bersih di Kelurahan Tanjung Sengkuang mencapai 113 water tank (WT) yang disalurkan ke sejumlah RW. Sementara itu, di Kelurahan Batumerah, sebanyak 24 WT didistribusikan ke beberapa wilayah sesuai kebutuhan warga.
Koordinasi dengan pihak kelurahan dan masyarakat juga terus dilakukan guna memastikan bantuan air benar-benar menjangkau warga yang paling membutuhkan.
“Kami berkoordinasi dengan perangkat setempat agar data penerima sesuai dengan kondisi riil di lapangan,” jelas Amru.
Di tengah situasi tersebut, warga berharap gangguan suplai air bersih dapat segera teratasi secara permanen. Rudi, 45, warga Tanjungsengkuang, mengaku kelelahan karena harus bergantung pada distribusi air tangki selama lebih dari dua bulan terakhir.
“Sudah hampir dua bulan kami harus antre air. Harapan kami suplai air bisa normal kembali agar aktivitas tidak terganggu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Siti, 38, warga Batumerah. Ia menilai bantuan air tangki memang membantu, namun bukan solusi jangka panjang.
“Kami ingin air bisa mengalir normal lagi ke rumah,” katanya.
Hingga kini, distribusi melalui mobil tangki masih menjadi solusi utama di tengah krisis air bersih yang belum terselesaikan.
Masyarakat pun berharap perbaikan sistem suplai air dapat segera rampung, sehingga kebutuhan dasar mereka kembali terpenuhi tanpa ketergantungan pada bantuan distribusi. (*)