Buka konten ini

DIREKTUR Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat meninjau langsung fasilitas hunian pekerja di Kota Batam, Sabtu (4/4), guna memastikan kesesuaian antara laporan administratif dengan kondisi di lapangan sekaligus menyerap aspirasi para penghuni.
Kunjungan difokuskan di Griya Pekerja Rusunawa Lancang Kuning, Kecamatan Batuampar. Didampingi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Bambang Joko Sutarto, Saiful juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dengan para pekerja.
“Kami hadir untuk melihat langsung fasilitas yang disiapkan bagi para pekerja, sekaligus mendengar pengalaman dan masukan dari para penghuni,” ujar Saiful di sela kunjungan.
Sebelumnya, rombongan juga meninjau hunian pekerja di kawasan Kabil dan Muka Kuning.
Ketiga lokasi tersebut dipilih karena berada dekat pusat aktivitas pekerja, mulai dari sektor konstruksi di Kabil hingga industri manufaktur di kawasan Batamindo, Muka Kuning.
Menurut Saiful, kedekatan hunian dengan tempat kerja menjadi faktor penting dalam program Griya Pekerja. Selain meningkatkan efisiensi waktu tempuh, hal itu juga diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan lalu lintas yang kerap dihadapi pekerja saat berangkat dan pulang kerja.
“Perlindungan jaminan kecelakaan kerja mencakup perjalanan menuju dan dari tempat kerja. Karena itu, aspek keselamatan ini menjadi perhatian kami,” katanya.
Sebagai bagian dari konsep hunian terintegrasi, BPJS Ketenagakerjaan juga menggandeng sejumlah perusahaan untuk menyediakan layanan transportasi antar-jemput (shuttle) bagi pekerja, guna menunjang kenyamanan dan keamanan mobilitas.
Di Rusunawa Lancang Kuning, tersedia 564 kamar yang masing-masing dilengkapi dua tempat tidur dan dapat dihuni hingga empat orang. Saat ini, sebagian besar unit ditempati dengan kapasitas yang lebih longgar. Sementara itu, hunian pekerja di Kabil, Kecamatan Nongsa, memiliki kapasitas sekitar 1.000 kamar, dan di Muka Kuning tersedia 78 kamar.
Di Batam, BPJS Ketenagakerjaan telah membangun tiga Griya Pekerja yang tersebar di Bumi Lancang Kuning, Muka Kuning, dan Kabil. Tingkat hunian di ketiga lokasi tersebut mencapai sekitar 98 persen dengan total penghuni sekitar 5.000 pekerja aktif, mencerminkan tingginya kebutuhan hunian di kawasan industri.
Program Griya Pekerja, lanjut Saiful, merupakan bagian dari dukungan terhadap program pemerintah dalam penyediaan hunian layak dan terjangkau, sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan serta kualitas sumber daya manusia.
Keberadaan hunian ini juga dinilai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh seiring meningkatnya jumlah penghuni.
Saiful menegaskan, program ini merupakan wujud komitmen BPJS Ketenagakerjaan yang mengedepankan tiga prinsip utama, yakni cakupan (coverage), kepedulian (care), dan kredibilitas (credibility).
“Griya Pekerja adalah kontribusi nyata dalam mendukung visi pemerintah untuk menghadirkan perlindungan dan kesejahteraan menyeluruh bagi pekerja Indonesia,” ujarnya.
Salah seorang penghuni, Reno, pekerja asal Duri, mengaku merasakan langsung manfaat tinggal di Griya Pekerja Lancang Kuning. Ia menyebut fasilitas yang tersedia memadai dengan lingkungan yang aman dan nyaman.
“Saya sudah delapan bulan tinggal di sini. Biaya sewanya terjangkau, dan lingkungannya juga aman,” kata Reno.
Melihat tingginya minat serta manfaat yang dirasakan pekerja, BPJS Ketenagakerjaan berencana memperluas program Griya Pekerja ke sejumlah wilayah lain, seperti Jakarta, Cikarang, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Batam Nagoya, Suci Rahmad, menyambut positif kunjungan tersebut dan menilai hal itu menjadi bukti nyata kehadiran BPJS Ketenagakerjaan dalam memperhatikan kebutuhan hunian pekerja di Batam. (***)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO