Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ketegangan antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka mengancam perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat sebagai target serangan balasan.
Dalam pernyataan resmi, Selasa (31/3), IRGC memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menjadi sasaran jika pembunuhan terhadap pejabat tinggi Iran terus berlanjut.
Sejumlah nama besar disebut secara eksplisit, seperti Apple, Google, dan Meta. Bahkan, daftar itu meluas hingga mencakup perusahaan lain seperti Microsoft, Intel, Oracle, Tesla, Palantir, dan Nvidia.
IRGC menuding perusahaan-perusahaan tersebut terlibat dalam operasi pelacakan dan perencanaan pembunuhan terhadap elite Iran. Tuduhan itu belum mendapat tanggapan resmi dari pihak perusahaan terkait.
“Mereka harus mengantisipasi tindakan balasan,” demikian pernyataan IRGC.
Ancaman tersebut menandai eskalasi baru dalam konflik, di mana sasaran tidak lagi terbatas pada militer, tetapi juga merambah sektor sipil dan teknologi global.
IRGC juga mengeluarkan peringatan kepada karyawan dan masyarakat di sekitar fasilitas perusahaan-perusahaan tersebut.
Karyawan diminta meninggalkan tempat kerja, sementara warga di sekitar lokasi perusahaan disarankan menjauh hingga radius satu kilometer.
Namun, IRGC tidak merinci bentuk maupun lokasi serangan yang dimaksud.
Infrastruktur Digital Mulai Terdampak
Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang semakin kompleks antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel.
Pada awal Maret, Amazon melaporkan dua pusat data mereka di Uni Emirat Arab terkena serangan drone, sementara satu fasilitas di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan di sekitarnya.
Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran bahwa infrastruktur digital kini menjadi bagian dari target strategis dalam konflik modern.
Sebagai respons, militer Iran juga mengumumkan operasi balasan menggunakan drone. Target yang disebut meliputi pusat komunikasi dan fasilitas industri di Israel.
Sejumlah infrastruktur yang diklaim menjadi sasaran antara lain fasilitas industri di dekat bandara internasional serta jaringan telekomunikasi.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait dampak serangan tersebut.
Pemimpin Iran Gugur, Konflik Kian Memanas
Konflik ini turut diwarnai jatuhnya korban dari jajaran elite Iran. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh penting lainnya dilaporkan tewas sejak awal konflik pada 28 Februari.
Meski demikian, sejumlah analis menilai Iran masih memiliki kapasitas untuk bertahan dan melakukan konsolidasi kekuatan.
Di tengah situasi yang memanas, Iran menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata, melainkan penghentian perang secara total.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Teheran juga menuntut jaminan agar tidak ada serangan di masa depan, serta kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan.
“Ini bukan negosiasi, melainkan pertukaran pesan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan apa pun dari Amerika Serikat.
Terkait keamanan maritim, Iran memastikan Selat Hormuz tetap dibuka. Namun, pembatasan diberlakukan terhadap kapal dari negara yang dianggap bermusuhan.
Pemerintah Iran mengklaim tetap menjamin keamanan jalur pelayaran bagi negara sahabat.
Eskalasi ini menunjukkan perubahan karakter konflik global, di mana perusahaan teknologi tidak lagi berada di luar arena, melainkan menjadi bagian dari target strategis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap stabilitas kawasan dan dunia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK