Buka konten ini
BATAM (BP) – Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak yang mudah menular dan berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.
Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), Pemko menegaskan bahwa penularan campak dapat terjadi sangat cepat jika tidak diantisipasi sejak dini.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan campak merupakan penyakit menular yang kerap menyerang anak, khususnya yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
“Penyakit ini sangat mudah menular, terutama pada anak-anak,” ujarnya kepada Batam Pos, Selasa (1/4).
Ia menjelaskan, gejala campak umumnya muncul secara bertahap. Pada fase awal atau prodromal, penderita biasanya mengalami demam tinggi hingga di atas 38,5 derajat Celsius, disertai batuk, pilek, dan mata merah (konjungtivitis).
Dalam kondisi tersebut, anak biasanya tampak lemas dan kurang aktif. Selanjutnya, muncul tanda khas berupa bintik putih di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spots, yang menjadi indikator kuat infeksi campak sebelum ruam muncul di kulit.
“Setelah itu, biasanya 3 sampai 5 hari sejak demam, akan muncul ruam kulit,” jelasnya.
Ruam tersebut umumnya dimulai dari wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Warnanya merah kecokelatan dan dalam beberapa kasus dapat menyatu di beberapa bagian tubuh.
Didi menegaskan, campak bukan penyakit ringan karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak yang belum diimunisasi.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Selain itu, orang tua diminta lebih peka terhadap gejala awal seperti demam dan munculnya ruam.
“Segera periksakan ke fasilitas kesehatan jika ada gejala. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk,” tegasnya.
Ia menambahkan, pencegahan campak tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Dengan imunisasi dan kewaspadaan bersama, penyebaran campak dapat dicegah,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan tren kasus campak nasional menunjukkan penurunan signifikan. Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus turun 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada awal tahun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan penurunan tersebut terjadi secara konsisten di sejumlah daerah.
“Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang mengalami lonjakan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026,” ujarnya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK