Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di tengah tantangan sektor properti nasional yang dibayangi melemahnya daya beli dan tingginya biaya pendanaan, PT Pos Properti Indonesia justru mencatatkan kinerja moncer pada awal tahun 2026. Anak usaha PT Pos Indonesia (Persero) ini membukukan capaian maksimal pada aktivitas penyewaan properti (property leasing) sepanjang dua bulan pertama tahun ini.
Capaian tersebut menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi. PT Pos Properti dinilai berhasil membalikkan tantangan menjadi peluang melalui strategi optimalisasi aset yang tepat sasaran.
Chief Commercial Officer PT Pos Properti Indonesia, Aldhita Prayudhiputra, mengungkapkan bahwa perusahaan berani mematok target pertumbuhan sebesar 18 persen sepanjang tahun 2026. Angka ini jauh melampaui proyeksi pertumbuhan industri properti nasional yang hanya berkisar 5,2 hingga 5,9 persen.
“Kami tetap optimistis. Dari pergerakan suku bunga dan daya beli saat ini, kami melihat masih ada peluang besar. Justru di tengah dinamika ekonomi, kebutuhan akan ruang komersial yang strategis semakin meningkat. Kami tidak melihat krisis, melainkan peluang,” ujar Aldhita dalam keterangan tertulis dilansir Radar Bandung.
Berdasarkan data internal perusahaan, tren peningkatan permintaan sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2025. Sektor usaha seperti ritel modern, Food & Beverage (F&B), serta jasa keuangan mulai kembali melakukan ekspansi setelah periode konsolidasi panjang.
Saat ini, bisnis property leasing masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 50-60 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Lokasi kantor pos yang strategis di seluruh Indonesia menjadi nilai tawar utama bagi para tenant.
“Lokasi kami memiliki traffic alami yang tinggi karena kantor pos sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ini keuntungan yang siap dimanfaatkan para mitra penyewa kami,” tambahnya.
Tidak ingin terpaku pada bisnis konvensional, PT Pos Properti mulai menggencarkan inovasi di segmen co-living. Perusahaan memanfaatkan aset-aset menganggur (idle) milik Pos Indonesia untuk disulap menjadi hunian modern bagi kaum urban.
Dua titik co-living perdana telah dibuka di lokasi premium Jakarta, yakni di kawasan Fatmawati dan Gandaria, dengan total kapasitas 50 kamar. Strategi ini menyasar segmen milenial dan profesional muda yang membutuhkan fleksibilitas hunian di pusat kota.
“Respons pasar sangat antusias. Bisnis co-living ini sangat agile karena langsung menyasar segmen Business-to-Consumer (B2C). Bahkan sebelum pemasaran dilakukan secara gencar, tingkat okupansi sudah melampaui ekspektasi awal kami,” jelas Aldhita.
Ke depan, PT Pos Properti berencana memperluas jangkauan optimalisasi aset ke sejumlah kota besar lainnya secara bertahap. Namun, ekspansi ini akan dilakukan secara terukur dengan pendekatan berbasis data, mempertimbangkan profil permintaan, daya beli lokal, serta potensi imbal hasil (yield).
Perusahaan juga membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya bagi mitra strategis untuk mendorong produktivitas aset-aset negara yang dikelola. Dengan kombinasi bisnis leasing yang stabil dan inovasi co-living yang dinamis, PT Pos Properti optimistis mampu menjaga tren positif di tengah fluktuasi ekonomi global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI