Buka konten ini

WARSAWA (BP) – Amerika Serikat meminta Polandia mengerahkan sistem pertahanan udara Patriot ke Timur Tengah guna membantu menangkal serangan Iran.
Permintaan tersebut dilaporkan media Polandia pada Selasa (31/3). Washington juga menginginkan rudal yang saat ini ditempatkan di Polandia, khususnya di sepanjang Sungai Vistula, turut dialihkan untuk memperkuat pertahanan di kawasan tersebut.
Hingga kini, pemerintah Polandia belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan tersebut.
Militer Polandia diketahui mengoperasikan dua sistem pertahanan udara Patriot yang dilengkapi 16 peluncur dan sekitar 600 rudal.
Sebelumnya, pada Senin (30/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan menghancurkan seluruh infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta fasilitas desalinasi.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Eskalasi konflik pun terus meningkat.
Houthi Ancam Tutup Jalur Minyak Global
Sementara itu, kelompok Ansar Allah Yaman atau Houthi mempertimbangkan langkah untuk memblokir Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia.
Jika langkah tersebut dilakukan, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Deputi Menteri Informasi pemerintahan Houthi, Mohammed Mansour, mengatakan rencana tersebut masih dalam pembahasan bersama Iran.
“Ini masih dalam proses pembahasan. Yang jelas, kami ingin menunjukkan kepada musuh bahwa kami tidak akan menyerah,” ujarnya kepada media Italia, Senin (30/3).
Ia juga memperingatkan Eropa agar tidak terus memusuhi kelompok Poros Perlawanan. Jika tidak, dampaknya bisa dirasakan langsung melalui lonjakan harga energi.
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur vital perdagangan global. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak dan barang, serta memicu gejolak ekonomi dunia.
Di sisi lain, ketegangan di sekitar Iran juga disebut telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Dampaknya mulai terasa pada peningkatan harga bahan bakar di berbagai negara.
Iran Klaim Tak Kekurangan Pasokan BBM
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, memastikan pasokan bahan bakar di negaranya tetap aman di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menegaskan, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi.
“Tidak ada alasan untuk khawatir terhadap pasokan bahan bakar. Langkah-langkah yang diperlukan telah diterapkan. Masyarakat dapat yakin tidak akan ada masalah,” ujarnya.
Menurut Paknejad, di tengah situasi tersebut, diskon penjualan minyak Iran justru mengalami penurunan, sementara harga jual rata-rata meningkat signifikan.
“Diskon penjualan minyak telah turun drastis, sementara harga jual rata-rata melonjak,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menghancurkan sejumlah infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta fasilitas desalinasi.
Sejak akhir Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Eskalasi konflik pun terus meningkat. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK