Buka konten ini

DINAS Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Kabupaten Bintan menurunkan tim teknis ke lokasi waduk sumber air baku Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Ibu Kota Kecamatan (IKK) Seri Kuala Lobam.
Langkah ini dilakukan menyusul kekeringan yang melanda waduk tersebut, sekaligus menindaklanjuti permintaan pengelola SPAM untuk difasilitasi alat berat guna membuka aliran air dari waduk lain.
Kepala Dinas PUPRP Bintan, Wan Affandi, mengatakan hasil pengecekan di lapangan menunjukkan kondisi waduk memang mengalami kekeringan akibat musim kemarau.
“Sumber air bakunya kering karena waduk tersebut bergantung pada air hujan,” ujarnya.
Saat ini, tim teknis masih melakukan kajian dan evaluasi sebelum memutuskan penggunaan alat berat untuk membuka jalur penghubung antarwaduk.
Kajian tersebut mencakup pengecekan kualitas air dari waduk lain agar air yang dialirkan tetap layak dikonsumsi masyarakat. “Jangan sampai aliran dibuka, tetapi kualitas airnya tidak memenuhi standar,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini pemerintah daerah melalui OPD terkait tengah berupaya mencari sumber air baku yang layak agar distribusi air bersih tetap terjaga.
Sebelumnya, pengelola SPAM IKK Seri Kuala Lobam mengusulkan penggunaan alat berat untuk membuka jalur air dari waduk lain ke waduk yang mengering.
Ketua SPAM IKK Seri Kuala Lobam, Pardomuan Lumban Raja, menyebut terdapat tiga waduk di kawasan tersebut, namun baru satu yang dimanfaatkan dan kini kondisinya kering.
“Direncanakan membuka jalur air sepanjang sekitar 1,2 kilometer dari waduk yang masih berisi air ke waduk yang kering,” ujarnya.
Di tengah kondisi kekeringan yang mulai dirasakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Pulau Bintan berpotensi mengalami hujan meski bersifat lokal.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Hayu Nur Mahron, menjelaskan secara umum kondisi atmosfer masih mendukung pembentukan awan hujan.
“Kelembapan udara cukup basah hingga basah, sehingga berpotensi mendukung terbentuknya awan konvektif penghasil hujan,” ujarnya, Minggu (29/3).
Ia menyebut, suhu muka laut yang relatif hangat serta kondisi atmosfer yang labil ringan hingga sedang turut membuka peluang terbentuknya awan Cumulonimbus.
Meski demikian, hujan yang terjadi diperkirakan bersifat lokal dengan intensitas ringan hingga sedang, terutama pada pagi hingga siang hari.
“Secara umum cuaca berawan, tetapi ada potensi hujan lokal dalam tiga hari ke depan,” jelasnya.
Di sisi lain, ratusan warga Kota Tanjungpinang bersama jajaran pemerintah daerah menggelar salat istisqa di Lapangan Pamedan, Minggu (29/3).
Salat tersebut dipimpin Imam Najmuddin, dengan khatib Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang, Erizal.
Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengatakan salat istisqa digelar karena hujan tidak kunjung turun selama lebih dari 30 hari, sehingga berdampak pada ketersediaan air bersih.
“Sudah lebih dari 30 hari hujan tidak turun. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ujarnya.
Pemko Tanjungpinang juga telah mengerahkan armada untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Distribusi dilakukan sejak pagi hingga dini hari untuk menjangkau sebanyak mungkin warga.
“Saya juga menginstruksikan kelurahan untuk melibatkan masyarakat yang memiliki mobil pikap agar membantu distribusi air,” tambahnya. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO – YUSNADI NAZAR – MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY