Buka konten ini

BATAM (BP) – Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai memberi tekanan nyata terhadap perekonomian Batam. Dampak paling terasa muncul pada kenaikan biaya operasional industri, terutama di sektor energi dan logistik.
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, efek awal dari gejolak global ini bukanlah penurunan aktivitas industri, melainkan lonjakan risiko biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
“Dampak langsung yang paling cepat terasa adalah kenaikan risiko biaya—energi, ongkos angkut (freight), premi asuransi pelayaran, tekanan kurs, hingga sentimen pasar. Bukan langsung penurunan total aktivitas industri,” ujarnya, Kamis (26/3).
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat indikasi investor asing menarik diri dari Batam. Namun, dinamika global membuat calon investor cenderung lebih berhati-hati.
“Belum ada sinyal resmi investor keluar. Tetapi investor baru kini lebih selektif dan menunda ekspansi sampai volatilitas global mereda,” katanya.
Fary menegaskan, fondasi investasi Batam masih tergolong kuat. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp69,30 triliun, sekaligus menempatkan Batam sebagai pusat Penanaman Modal Asing (PMA) di Kepulauan Riau.
Dari sisi perdagangan, tekanan juga belum terlihat signifikan. Pada Januari 2026, nilai ekspor Batam tercatat sebesar US$1.592,81 juta, sedangkan impor mencapai US$1.579,12 juta.
“Karena eskalasi besar konflik terjadi pada akhir Februari 2026, belum bisa disimpulkan ada penurunan volume yang tajam. Namun, tekanan pada ongkos kirim, jadwal kapal, dan biaya input sudah menjadi risiko nyata,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah sektor paling rentan terdampak, di antaranya industri elektronik dan mesin sebagai tulang punggung ekspor Batam. Selain itu, sektor galangan kapal dan maritim juga sangat sensitif terhadap kenaikan biaya pelayaran dan premi risiko.
“Kuncinya menjaga Batam tetap sebagai hub yang cepat dan pasti. Layanan investasi harus dipercepat, pasokan energi dan bahan baku dijaga, pelabuhan tetap efisien, serta industri didorong melakukan diversifikasi pasar dan pemasok,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Batam, Roma Nasir Hutabarat, menyoroti persoalan energi yang dinilai kian membebani pelaku usaha di tengah ketidakpastian global.
Ia mengungkapkan adanya disparitas harga gas di kawasan industri. Sejumlah pengelola kawasan yang memiliki pembangkit listrik sendiri memperoleh harga gas sekitar 14 dolar AS, sedangkan tarif untuk PLN berada di kisaran 7 dolar AS.
“Akibatnya, tenant di kawasan tersebut harus menanggung tarif listrik lebih tinggi dibanding pelaku usaha di luar kawasan,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak dunia turut memperparah tekanan. Nasir menilai, lonjakan harga energi akan berdampak langsung pada biaya produksi dan logistik.
“Kalau harga energi terus naik, biaya logistik ikut terdorong. Pada akhirnya akan dibebankan ke pemilik barang dan memicu kenaikan harga di pasar,” katanya.
Fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh 100 dolar AS per barel sebelum turun ke kisaran 80 dolar AS masih menyisakan ketidakpastian. Kondisi ini sangat dipengaruhi sentimen global dan perkembangan konflik geopolitik.
Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17 ribu per dolar AS turut menjadi perhatian. Kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah dinilai berpotensi memperberat beban ekonomi nasional.
“Kalau harga minyak dan dolar sama-sama naik, tekanan terhadap perekonomian akan semakin berat,” tutupnya.
Menurut dia, pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai skenario, mulai dari kondisi moderat hingga terburuk, termasuk kemungkinan harga minyak menembus 150 dolar AS per barel.
Analisis dari pengamat ekonomi Batam yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra, tak jauh berbeda. Ia menilai kondisi ekonomi Batam belum mengalami pelemahan signifikan, namun juga belum mencapai pertumbuhan tinggi.
“Batam saat ini belum loyo, tetapi juga belum booming penuh karena tekanan eksternal mulai terasa. Secara umum, Batam tumbuh moderat dengan kecenderungan pertumbuhan yang belum merata,” ujarnya, Rabu (25/3).
Sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi Batam. Aktivitas industri tetap berjalan, meski sangat bergantung pada dinamika pasar global, terutama dari negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan kawasan Eropa.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan global masih membayangi kinerja ekonomi Batam ke depan. Sejumlah faktor eksternal seperti memanasnya geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik di Timur Tengah, tingginya suku bunga global, hingga perlambatan ekonomi Tiongkok dan fragmentasi perdagangan dunia berpotensi memengaruhi arus investasi dan ekspor.
“Investasi tetap masuk, tetapi cenderung wait and see. Aktivitas ekspor masih berjalan, namun tidak seagresif beberapa tahun terakhir,” katanya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK