Buka konten ini

BATAM (BP) – Ketersediaan air bersih di Kota Batam masih dalam kondisi cukup meski wilayah tersebut tengah menghadapi musim kemarau, namun masyarakat tetap diimbau menggunakan air secara bijak guna menjaga ketahanan air ke depan.
Sebagai daerah yang tidak memiliki sumber air alami seperti sungai besar maupun mata air, seluruh kebutuhan air baku di Batam bergantung pada curah hujan yang ditampung melalui waduk atau dam.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Batam masih akan mengalami musim kemarau dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini berpotensi menurunkan ketersediaan air baku di waduk akibat berkurangnya curah hujan.
Meski demikian, curah hujan pada April 2026 diperkirakan akan meningkat dibandingkan Maret 2026. Hal ini diharapkan dapat menambah pasokan air secara alami sehingga ketersediaan air baku di waduk dapat meningkat secara bertahap.
“Saat ini, ketahanan air di sejumlah waduk di Batam masih berada pada kategori cukup. Kebutuhan air minum masyarakat disuplai melalui sistem penyediaan air minum (SPAM) berbasis jaringan perpipaan yang terintegrasi,” ujar Humas PT Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah.
Tercatat, lanjut Ginda, terdapat tujuh waduk yang dioperasikan PT Air Batam Hulu dengan total kapasitas produksi sekitar 4.500 liter per detik. Secara umum, pasokan tersebut masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun demikian, kondisi ini tidak dapat dijadikan jaminan untuk jangka panjang. Tantangan perubahan iklim serta pertumbuhan jumlah penduduk menjadi faktor yang perlu diantisipasi melalui langkah strategis, baik dalam penambahan sumber air baku maupun pengelolaan sumber daya air yang ada.
Terkait isu penurunan elevasi muka air waduk yang beredar di masyarakat, Ginda menegaskan kondisi tersebut masih dalam batas aman. Pengelolaan waduk tetap mengacu pada pola operasi yang terukur dan terencana, sehingga distribusi air kepada pelanggan tetap berjalan optimal.
“Dalam menghadapi musim kemarau, PT Air Batam Hulu bersama PT Air Batam Hilir terus melakukan berbagai upaya, seperti pemantauan intensif kondisi waduk serta pengendalian aliran keluar (outflow) yang dikoordinasikan dengan BP Batam sebagai pemilik aset melalui Badan Usaha SPAM,” terangnya.
Di sisi lain, kebutuhan air masyarakat cenderung meningkat saat musim panas. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang lebih bijak agar keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan tetap terjaga.
Ginda mengimbau masyarakat untuk berperan aktif menjaga ketersediaan air bersih, antara lain dengan menggunakan air secara efisien, menghindari pemborosan, memperbaiki kebocoran instalasi di rumah, serta menampung air secukupnya sebagai cadangan.
Selain itu, masyarakat juga diminta turut menjaga lingkungan dan daerah resapan air guna mendukung keberlanjutan sumber daya air.
Dengan kolaborasi antara pengelola dan masyarakat, diharapkan ketersediaan air bersih di Batam dapat terus terjaga, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga bagi generasi mendatang. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO