Buka konten ini

LINGGA (BP) – Alih-alih disambut terang lampu, Hari Raya di Desa Mepar justru dibalut gelap. Sejak Lebaran hari ketiga, listrik di desa itu padam total dan belum juga menyala hingga Kamis (26/3).
Kondisi ini memicu keluhan warga. Pemadaman yang semula terjadi terbatas kini berubah menjadi mati total, melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Anak-anak kesulitan belajar pada malam hari. Usaha kecil terhenti. Kebutuhan rumah tangga pun terganggu.
Padahal, sebelumnya listrik di Desa Mepar hanya menyala selama 14 jam, mulai pukul 17.00 hingga 07.00 WIB. Kini, durasinya bahkan nol jam.
“Sudah dua hari tidak ada listrik. Masyarakat mengeluh semua,” ujar Kepala Desa Mepar, Handoyo.
Ia mengakui kondisi mesin pembangkit yang ada memang sudah lama bermasalah dan tidak lagi layak digunakan.
“Memang sering rusak, tapi kali ini benar-benar tidak menyala,” tambahnya.
Warga pun mendesak PLN dan pemerintah daerah mengambil langkah konkret. Perbaikan yang selama ini dilakukan dinilai hanya bersifat sementara, tanpa solusi jangka panjang.
Bahkan, wacana penyambungan jaringan listrik dari ibu kota kabupaten di Daik sempat mengemuka. Namun hingga kini belum terealisasi.
Di tengah tekanan tersebut, PLN akhirnya bergerak. Kepala Unit Layanan Pelanggan (ULP) Dabo Singkep, Suheri, memastikan mesin pembangkit baru telah dikirim dari Tanjungpinang.
“Alhamdulillah, hari ini mesin baru sudah diberangkatkan menggunakan kapal. Kalau sore atau malam sampai, langsung kita pasang,” ujarnya.
Menurutnya, mesin baru tersebut memiliki kapasitas lebih besar dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik warga.
Rencana penyambungan kabel dari Mepar ke Daik, kata dia, sempat dipertimbangkan. Namun kondisi geografis membuat rencana itu dibatalkan.
“Tidak memungkinkan, jadi kita fokus pada penguatan pembangkit di Mepar,” jelasnya.
Suheri menambahkan, kebutuhan listrik ke depan juga akan meningkat, seiring rencana pembangunan Sekolah Rakyat di wilayah tersebut.
Karena itu, mesin baru dengan kapasitas lebih besar dinilai sebagai solusi paling realistis saat ini.
Meski demikian, layanan listrik 24 jam masih dalam tahap pengusulan.
“Ke depan kita upayakan, tapi masih proses,” katanya.
Di sisi lain, kondisi ini terasa ironis. Desa Mepar memiliki potensi besar sebagai desa wisata, bahkan masuk nominasi 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia.
Namun tanpa listrik yang memadai, potensi tersebut terancam redup.
Kini, warga hanya berharap mesin baru benar-benar menjadi jawaban bukan sekadar janji yang kembali berulang. (*)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY