Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Produksi manufaktur Singapura terhenti dari tren lima bulan berturut-turut yang tumbuh. Data Economic Development Board (EDB) menunjukkan, output manufaktur Februari 2026 turun 0,1 persen dibanding tahun sebelumnya, jauh di bawah prediksi analis Bloomberg yang memperkirakan pertumbuhan 14,1 persen.
EDB menyebut penurunan ini “sebagian besar” dipengaruhi penutupan pabrik saat perayaan Tahun Baru Imlek, yang jatuh pada Februari tahun ini, berbeda dengan Januari 2025. Laporan itu juga merevisi pertumbuhan Januari 2026 menjadi 12,9 persen dari sebelumnya 16,6 persen.
Analis menilai, dampak perang di Iran bakal menjadi tantangan tambahan bagi industri manufaktur Singapura. Kenaikan biaya, gangguan pasokan, serta lonjakan harga listrik grosir, transportasi, logistik, dan bahan baku membuat perusahaan harus menahan diri.
“Efek konflik ini kemungkinan baru akan terlihat di data Maret,” kata ekonom Maybank, Chua Hak Bin dan Brian Lee. “Output pabrik bisa stagnan atau sedikit menurun.”
Di tengah tekanan itu, sektor elektronik tetap menjadi penyelamat. Produksi elektronik naik 13,7 persen secara tahunan. Permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) mendorong produksi semikonduktor melonjak 14,6 persen, sementara infokom dan elektronik konsumen meningkat 21,9 persen. Modul dan komponen elektronik lain bahkan tumbuh 40,4 persen, meski segmen periferal komputer dan penyimpanan data turun 16,3 persen.
“Dorongan dari AI dan permintaan eksternal untuk chip memori serta produk server buatan Singapura diperkirakan tetap kuat,” kata Chua Han Teng, senior ekonom DBS Bank.
Namun, ia mengingatkan, pasokan material elektronik kritis bisa terganggu akibat konflik Timur Tengah. Misalnya, serangan Iran terhadap hub gas Ras Laffan di Qatar telah memotong sepertiga pasokan helium dunia, bahan penting dalam produksi semikonduktor.
Dampak paling besar justru dirasakan sektor biomedical, yang jatuh 27,3 persen. Jika klaster ini dikecualikan, output manufaktur masih tumbuh 3,9 persen, tapi jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan Januari yang direvisi 19,9 persen. Produksi farmasi turun 18 persen karena perubahan campuran bahan aktif, sementara permintaan perangkat medis melemah sehingga output teknologi medis turun 30,4 persen.
Sektor teknik presisi turun 3,5 persen karena penutupan pabrik saat perayaan, mesin dan sistem menurun 3,4 persen, dan modul presisi turun 3,8 persen. Industri kimia menyusut 4,6 persen akibat permintaan melemah dan shutdown pabrik; petrokimia turun 7,4 persen, petroleum 3,9 persen, dan segmen spesialis turun 10,2 persen.
Chua menambahkan, segmen petrokimia sudah merasakan tekanan akibat gangguan pasokan naphtha, bahan utama pembuatan plastik dari distilasi minyak mentah. Blokade di Selat Hormuz berpotensi naik harga plastik dan biaya produksi sektor lain. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO