Buka konten ini

PENGENDARA mobil diingatkan mewaspadai microsleep, kondisi tidur singkat tanpa disadari yang bisa terjadi saat berkendara. Meski hanya berlangsung 1–15 detik, dampaknya bisa fatal.
Fenomena ini muncul ketika tubuh sudah kelelahan. Otak seakan “mati lampu” sejenak di tengah aktivitas, termasuk saat menyetir. Tanpa disadari, pengemudi bisa kehilangan kendali kendaraan.
Gejalanya sering dianggap sepele. Padahal, saat mata terasa sangat berat, kepala mulai terkulai, atau tersentak berulang, itu tanda tubuh sudah tidak sanggup lagi. Dalam kondisi tersebut, pengemudi disarankan segera menepi dan beristirahat.
Kasus kecelakaan akibat microsleep bukan hal baru. Sejumlah insiden di jalur mudik disebut dipicu kelelahan pengemudi yang memaksakan diri tetap berkendara.
Karena itu, kondisi fisik menjadi faktor utama yang harus diperhatikan sebelum perjalanan jauh. Pengemudi disarankan cukup istirahat, minimal tidur 7–8 jam sebelum berangkat.
Selain itu, asupan makanan juga perlu dijaga. Hindari konsumsi berlebihan makanan berat yang memicu kantuk. Sebaliknya, perbanyak air putih dan vitamin agar tubuh tetap bugar selama perjalanan.
Untuk menjaga fokus, pengemudi bisa memanfaatkan musik atau podcast. Namun volumenya tidak boleh terlalu keras agar tetap peka terhadap kondisi lalu lintas.
Istirahat berkala juga penting. Idealnya, pengemudi berhenti setiap 2–3 jam untuk meregangkan tubuh, menghirup udara segar, atau sekadar melepas lelah.
Bagi yang bepergian bersama, disarankan mengemudi secara bergantian. Cara ini efektif mengurangi kelelahan dan menjaga konsentrasi tetap optimal.
Selain faktor pengemudi, kondisi kendaraan juga harus dipastikan prima sebelum berangkat. Kendaraan yang layak jalan akan membuat perjalanan lebih aman dan nyaman.
Kewaspadaan menjadi kunci. Sebab, dalam hitungan detik, microsleep bisa mengubah perjalanan mudik menjadi petaka. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO