Buka konten ini

SWEDIA (BP) – Pada akhir 2000-an, wajah ruang kelas di Swedia mulai berubah. Buku pelajaran yang dulu setia menemani siswa di meja dan rak perlahan menghilang. Sebagai gantinya, laptop dan tablet masuk ke kelas—dipakai untuk membaca, mengerjakan tugas, hingga mengakses materi pelajaran. Rutinitas belajar yang sebelumnya berpusat pada buku pun bergeser ke layar.
Para guru ikut beradaptasi. Siswa tak lagi membuka buku, melainkan login ke platform digital saat pelajaran dimulai. Tugas dikumpulkan lewat perangkat lunak, bukan kertas. Tahun demi tahun, buku cetak makin jarang terlihat. Perubahan itu awalnya pelan, lalu menjadi hal yang dianggap normal di sistem pendidikan Swedia.
Transformasi ini bukan tanpa tujuan. Pemerintah ingin menyiapkan siswa menghadapi dunia yang kian digital. Perangkat teknologi dipandang mampu membuat pembelajaran lebih fleksibel, mudah diakses, dan relevan dengan kehidupan modern. Lambat laun, pendekatan ini mengakar kuat di sekolah-sekolah.
Kelas Dibangun Ulang, Layar Jadi Pusat
Ketika sistem digital sudah mapan, hampir seluruh aktivitas belajar bergantung pada layar. Membaca, menulis, hingga mengerjakan tugas dilakukan lewat perangkat. Bukan sekadar praktis, digitalisasi dijanjikan menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif.
Ambisi itu membuat perubahan ini terasa besar. Komputer dan tablet bukan lagi alat tambahan, melainkan menjadi pusat proses belajar. Sekolah tak hanya mengejar pengetahuan akademik, tapi juga membentuk kebiasaan digital siswa.
Seiring itu, kebiasaan belajar ikut berubah. Membaca teks panjang, mengerjakan latihan, hingga mengakses materi semakin sering dilakukan lewat perangkat. Buku cetak pun tersisih dari peran utamanya.
Janji Digitalisasi yang Sempat Diyakini
Digitalisasi pendidikan datang dengan harapan besar. Materi pelajaran bisa diperbarui lebih cepat, akses belajar lebih luas, dan siswa bisa belajar dengan cara yang lebih fleksibel. Sekolah juga diharapkan mencerminkan dunia yang sarat teknologi.
Untuk beberapa waktu, arah ini dianggap tepat. Layar menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian belajar. Siswa terbiasa menavigasi pelajaran lewat perangkat, sementara guru menyesuaikan metode mengajar dengan sistem berbasis software.
Lebih dari sekadar mengurangi penggunaan kertas, digitalisasi dimaksudkan sebagai kerangka utama pembelajaran. Sebuah simbol bahwa kemajuan pendidikan berjalan seiring dengan adopsi teknologi.
15 Tahun Berlalu, Swedia Mulai Berbalik Arah
Namun, sekitar 15 tahun setelah digitalisasi masif dimulai, Swedia mulai mengevaluasi langkahnya. Laporan UNN menyebut negara itu mengalokasikan €104 juta (Rp1,82 triliun) pada 2022–2025 untuk menghadirkan kembali buku cetak di sekolah, terutama untuk mata pelajaran inti. Demikian tulis Evelyn Hart di Indian Defence Review.
Alasannya? Kekhawatiran terhadap kualitas belajar siswa. Guru, orang tua, hingga pejabat pendidikan menyoroti penurunan pemahaman membaca, rentang perhatian yang makin pendek, serta kemampuan menulis yang melemah di kelas berbasis layar.
Fokus pun bergeser. Bukan lagi soal potensi teknologi, melainkan hasil nyata di ruang kelas. Model yang dulu dianggap modern kini diuji dari dampaknya terhadap kemampuan dasar siswa.
Saat Layar Jadi Gangguan di Kelas
Salah satu masalah utama adalah distraksi. Perangkat yang sama untuk belajar juga membuka akses ke gim, media sosial, hingga internet. Akibatnya, siswa lebih mudah terdistraksi saat pelajaran berlangsung.
Guru tak hanya mengajar materi, tapi juga harus mengendalikan gangguan dari layar. Orang tua dan pendidik melihat perhatian siswa menjadi terpecah—dalam hitungan detik, tugas bisa tergantikan oleh hiburan.
Di sinilah buku cetak kembali dilirik. Bukan sekadar nostalgia, tapi sebagai solusi praktis. Tanpa notifikasi dan gangguan digital, buku dinilai lebih mendukung fokus dan pembacaan mendalam.
Swedia kini seperti mengirim pesan: teknologi tetap penting, tapi tidak semua hal bisa digantikan layar. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO