Buka konten ini

BAGI banyak masyarakat Indonesia, Lebaran selama ini identik dengan tradisi mudik dan berkumpul di rumah orang tua di kampung halaman. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, cara merayakan hari raya mulai mengalami perubahan.
Semakin banyak generasi muda yang memilih merayakan Idulfitri di tempat tinggal mereka sendiri, baik di apartemen maupun rumah dengan ruang yang terbatas. Bahkan, tidak sedikit yang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah bagi keluarga atau sahabat yang datang berkunjung.
Perubahan pola tersebut juga tercermin dari rencana mudik masyarakat pada tahun ini. Survei Litbang Kompas menunjukkan minat mudik pada Lebaran 2026 hanya mencapai 23,3 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 25,7 persen.
Sebaliknya, sebanyak 76,7 persen responden mengaku tidak berencana mudik atau masih mempertimbangkan perjalanan mereka. Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan penting, karena sekitar 49,4 persen responden menyatakan memiliki kekhawatiran terkait kondisi keuangan saat Lebaran.
Situasi tersebut mendorong sebagian masyarakat merayakan hari raya dengan cara yang lebih sederhana, salah satunya dengan berkumpul di rumah sendiri. Hunian yang biasanya menjadi ruang privat kini perlahan berubah fungsi menjadi tempat menyambut keluarga, berbagi cerita, dan mempererat kebersamaan.
Merayakan Idulfitri pertama kali di rumah sendiri kerap membuat seseorang melihat hunian mereka dari sudut pandang berbeda.
“Tiba-tiba kita mulai memikirkan apakah kursinya cukup, di mana tamu akan duduk, atau bagaimana makanan akan disajikan saat semua orang berkumpul. Hal-hal sederhana seperti ini sering menjadi pengalaman baru ketika menjadi tuan rumah, dan di situlah kehangatan rumah mulai terasa,” ujar Public Relations Manager IKEA Indonesia, Ririn Basuki.
Mulai dari menata ruangan agar nyaman untuk berkumpul hingga memperhatikan detail kecil saat menyambut tamu, banyak hal yang perlu dipersiapkan ketika merayakan Lebaran di rumah sendiri. Berikut beberapa ide sederhana yang bisa menjadi inspirasi.
Memulai Perencanaan dari Percakapan Sederhana
Persiapan menjadi tuan rumah saat Lebaran sering dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana. Misalnya, siapa saja yang akan datang, berapa jumlah tamu yang diperkirakan hadir, serta berapa lama mereka akan berkunjung.
Pertanyaan tersebut membantu tuan rumah membayangkan suasana rumah saat hari raya tiba. Dari gambaran itu, biasanya muncul berbagai pertimbangan, seperti kebutuhan tempat duduk atau area mana yang paling nyaman digunakan untuk berkumpul.
Dengan perencanaan yang jelas, rumah dapat ditata lebih terarah sehingga tetap terasa hangat dan nyaman bagi para tamu.
Menentukan Area Berkumpul di Rumah
Di setiap rumah biasanya ada satu titik yang menjadi pusat aktivitas ketika tamu datang. Area tersebut bisa berupa ruang tamu, dekat meja makan, atau bahkan sudut ruangan dengan karpet yang digunakan untuk duduk santai.
Menentukan titik berkumpul membantu menciptakan suasana yang lebih akrab. Kursi dapat disusun saling berhadapan, sementara meja kecil dapat dimanfaatkan untuk meletakkan camilan dan minuman.
Ketika semua orang berada di satu area yang nyaman, percakapan biasanya mengalir lebih mudah. Rumah pun terasa lebih hidup karena keluarga dan sahabat dapat berbagi cerita dalam suasana yang hangat.
Menyiapkan Rumah untuk Aktivitas yang Lebih Ramai
Saat menerima banyak tamu, tuan rumah sering menyadari bahwa rumah perlu disiapkan secara berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Hal-hal kecil yang sebelumnya jarang diperhatikan mulai dipikirkan, seperti tempat berkumpul tamu, posisi hidangan, hingga kenyamanan ruang untuk berbincang.
Karena itu, sebagian orang melakukan penyesuaian kecil menjelang Lebaran. Misalnya dengan menata ulang area berkumpul atau memastikan ruangan bisa digunakan secara lebih fleksibel saat tamu berdatangan.
Persiapan sederhana seperti ini dapat membantu tuan rumah menikmati momen kebersamaan tanpa terlalu khawatir dengan kondisi rumah.
Menyajikan Hidangan dengan Cara Lebih Santai
Hidangan Lebaran selalu menjadi bagian penting dalam setiap kunjungan keluarga. Namun kini banyak tuan rumah memilih cara penyajian yang lebih santai agar suasana terasa lebih akrab.
Alih-alih menyajikan makanan secara formal, camilan dan hidangan utama sering ditata di satu meja yang mudah dijangkau. Dengan cara ini, tamu dapat mengambil makanan sendiri sambil tetap mengobrol dengan orang di sekitarnya.
Pendekatan yang lebih santai ini membuat suasana berkumpul terasa lebih fleksibel. Para tamu dapat bergerak bebas, menikmati hidangan, sekaligus berbagi cerita tanpa harus mengikuti aturan jamuan yang terlalu formal. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO