Buka konten ini
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mendekati Rp17 ribu per dolar memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha nasional.
Terutama bagi industri yang bergantung pada impor bahan baku.
Namun kondisi tersebut dinilai tidak terlalu memengaruhi sebagian besar industri di Batam yang berorientasi ekspor.
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan fluktuasi kurs dolar relatif tidak memberikan tekanan signifikan bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Batam. Hal ini karena pola bisnis mayoritas perusahaan menggunakan mata uang dolar, baik saat mengimpor bahan baku maupun ketika menjual produk ke pasar luar negeri.
“Sebagian besar industri di Batam melakukan impor bahan baku dalam dolar, kemudian produk hasil olahan juga dijual kembali ke luar negeri dalam dolar,” kata Rafki, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan skema transaksi tersebut dengan contoh sederhana. Sebuah perusahaan dapat mengimpor bahan baku senilai 500 dolar, kemudian memprosesnya di Batam dan menjual produk tersebut ke pasar global seharga 600 dolar.
“Karena transaksi dilakukan dalam mata uang yang sama, perubahan nilai tukar rupiah tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kegiatan usaha,” ujarnya.
Menurut Rafki, tekanan kurs biasanya baru terasa apabila perusahaan mengimpor bahan baku dalam dolar, tetapi menjual produk akhirnya di dalam negeri menggunakan rupiah. Dalam situasi tersebut, pelemahan rupiah berpotensi menekan margin usaha karena biaya produksi meningkat sementara harga jual mengikuti pasar domestik.
“Misalnya impor dalam dolar, tetapi produknya dijual ke Jakarta atau daerah lain di Indonesia dalam rupiah. Kondisi seperti itu yang bisa memengaruhi margin perusahaan,” katanya.
Meski demikian, model usaha seperti itu tidak dominan di Batam. Rafki menyebut sekitar 90 persen industri di wilayah tersebut berorientasi ekspor.
Dengan karakteristik tersebut, pelemahan rupiah bahkan dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang mengekspor produknya ke luar negeri. Penerimaan dalam dolar akan bernilai lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
“Ketika pendapatan ekspor dalam dolar dikonversi ke rupiah, nilainya justru meningkat. Itu yang membuat banyak perusahaan ekspor di Batam tidak terlalu terpengaruh oleh pelemahan rupiah,” kata Rafki.
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menanggapi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut-sebut mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Ia menegaskan posisi rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS dan kondisi tersebut dinilai masih dapat dikendalikan.
Purbaya mengatakan stabilitas rupiah tetap terjaga selama fondasi ekonomi nasional berada dalam kondisi kuat. “Enggak ah, masih Rp16.800-an. Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” ujar Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3), saat memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi kondisi ekonomi domestik yang sehat serta koordinasi yang kuat antara pemerintah dan otoritas moneter. Karena itu, menjaga pertumbuhan ekonomi dan memastikan likuiditas dalam sistem keuangan tetap cukup menjadi langkah penting.
Purbaya menambahkan, Bank Indonesia juga terus memantau pergerakan nilai tukar di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI memonitor pergerakan nilai tukar, kerja sama yang baik antara pemerintah dengan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas,” katanya.
Ia menilai koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia akan memudahkan upaya meredam gejolak pasar global yang berpengaruh terhadap pergerakan rupiah.
“Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” ujarnya.
Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (10/3), nilai tukar rupiah tercatat menguat 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.863 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.949 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyebut penguatan rupiah turut dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan konflik dengan Iran mulai mendekati penyelesaian. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK