Buka konten ini

HOUSTON (BP) – Upaya Amerika Serikat (AS) untuk kembali mengirim manusia ke Bulan melalui program Artemis memasuki tahap baru. Badan antariksa AS, NASA, melakukan penyesuaian strategi misi di tengah sejumlah kendala teknis dan mundurnya jadwal peluncuran.
Meski demikian, sejumlah perusahaan antariksa swasta seperti SpaceX, Blue Origin, Intuitive Machines, dan Lunar Outpost tetap melanjutkan pengembangan teknologi yang menjadi bagian dari ambisi membawa manusia kembali ke satelit alami Bumi tersebut.
Program Artemis merupakan proyek eksplorasi terbesar yang saat ini dijalankan NASA.
Berbeda dengan program Apollo program pada era 1960–1970-an yang sepenuhnya dikelola pemerintah, Artemis dibangun melalui kolaborasi luas dengan industri antariksa komersial.
Dalam program ini, berbagai perusahaan swasta terlibat dalam pengembangan komponen penting, mulai dari roket peluncur, kendaraan pendarat, hingga robot eksplorasi yang nantinya digunakan untuk mendukung aktivitas manusia di permukaan Bulan.
Dilaporkan The Guardian pada Kamis (12/3/2026), Administrator NASA, Jared Isaacman, mengumumkan restrukturisasi strategi program Artemis. Perubahan tersebut memengaruhi jadwal pendaratan manusia di Bulan.
Dalam skema terbaru, misi pendaratan manusia diproyeksikan berlangsung melalui Artemis IV pada 2028. Penyesuaian ini dilakukan setelah program tersebut menghadapi berbagai persoalan teknis, pembengkakan biaya hingga miliaran dolar, serta keterlambatan selama beberapa tahun.
Perubahan strategi tersebut juga berdampak pada sejumlah perusahaan yang menjadi mitra NASA dalam proyek Artemis. Salah satunya adalah Lunar Outpost, perusahaan rintisan yang berbasis di Colorado.
Perusahaan ini tengah mengembangkan kendaraan robotik eksplorasi bernama Mobile Autonomous Prospecting Platform (Mapp). Rover tersebut dirancang untuk meneliti debu dan tanah di wilayah kutub selatan Bulan, yang dipandang berpotensi menjadi lokasi pembangunan pangkalan manusia di masa depan.
Chief Executive Lunar Outpost, Justin Cyrus, mengatakan rover tersebut direncanakan ikut serta dalam misi Artemis IV bersama para astronaut.
Menurut Cyrus, restrukturisasi program NASA justru membuka peluang lebih besar bagi perusahaan swasta untuk terlibat dalam eksplorasi Bulan.
Namun pengembangan teknologi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Rover Mapp sebelumnya sempat mencapai permukaan Bulan pada Maret tahun lalu setelah menempuh perjalanan delapan hari dari Bumi menggunakan wahana pendarat Athena milik perusahaan Intuitive Machines.
Sayangnya, wahana tersebut mengalami insiden saat mendarat dan terbalik, sehingga rover tidak dapat dikeluarkan dari dalam modul pendarat.
Meski menghadapi kegagalan tersebut, Lunar Outpost tetap melanjutkan berbagai proyek pengembangan teknologi. Perusahaan itu kini menyiapkan sejumlah inovasi, termasuk sistem produksi oksigen dan energi di Bulan serta lengan robotik yang dapat membantu pembangunan pangkalan manusia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO