Buka konten ini

BATAM (BP) – PT Pertamina Patra Niaga kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal Maret 2026. Perubahan harga tersebut berlaku untuk sejumlah produk BBM nonsubsidi, sementara harga BBM bersubsidi dipastikan tetap.
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga wilayah Kepulauan Riau (Kepri), Bagus Handoko, mengatakan penyesuaian harga dilakukan secara rutin setiap awal bulan mengikuti mekanisme harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“Memang ada perubahan harga sejak 1 Maret lalu. Penyesuaian ini rutin dilakukan mengikuti harga reguler. Ada produk yang turun dan ada juga yang naik,” ujarnya, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan, salah satu produk yang mengalami penurunan harga adalah Pertamax Turbo. Sementara beberapa produk lainnya mengalami penyesuaian sesuai dengan formula harga BBM nonsubsidi.
Adapun, harga BBM yang berlaku di wilayah Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau saat ini yakni Pertalite Rp10.000 per liter, Biosolar Rp6.800 per liter, Pertamax Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo Rp13.650 per liter, Dexlite Rp14.800 per liter, serta Pertamina Dex Rp15.100 per liter.
Menurut Bagus, penyesuaian harga tersebut hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax Series dan Dex Series. Sementara harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan.
“Harga Pertalite dan Biosolar tetap sama di seluruh Indonesia,” katanya.
Ia juga memastikan ketersediaan stok BBM di wilayah Kepulauan Riau dalam kondisi aman dan distribusi berjalan normal. Hingga saat ini tidak ada laporan antrean panjang ataupun penumpukan kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Masyarakat tidak perlu panik. Secara prinsip stok aman dan suplai berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Bagus juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh berbagai isu yang beredar, termasuk isu global yang dikaitkan dengan pasokan energi.
Menurut dia, pasokan BBM tidak hanya berasal dari satu wilayah sehingga kondisi geopolitik di suatu kawasan tidak serta-merta berdampak langsung terhadap distribusi di daerah.
Selain itu, ia menegaskan evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan setiap awal bulan. Karena itu masyarakat diminta menunggu pengumuman resmi apabila terjadi perubahan harga berikutnya.
“Evaluasi harga dilakukan setiap bulan, bukan di pertengahan bulan. Jadi masyarakat cukup menunggu pengumuman resmi dari Pertamina,” tutupnya.
Dua Lainnya Masih Menunggu Aman di Selat Hormuz
PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina International Shipping (PIS) mengungkapkan dua dari empat kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah telah keluar dari area konflik di Teluk Oman.
Kedua kapal tersebut adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon. Sementara dua kapal lainnya masih berada di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persia dan menunggu situasi aman untuk melintas di Selat Hormuz.
Dua kapal yang masih berada di kawasan tersebut yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Meski belum bisa keluar dari wilayah tersebut, kedua kapal dilaporkan dalam kondisi aman.
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, mengatakan kapal-kapal tersebut masih menunggu kondisi yang lebih aman untuk melanjutkan pelayaran.
“Dua kapal masih di Teluk Arab atau Teluk Persia dan belum bisa melewati Selat Hormuz. Ada dua kapal yang sudah beranjak dari Timur Tengah, namun kapal tersebut sebelumnya memang tidak berasal dari Teluk Arab dan tidak melalui Selat Hormuz,” kata Vega kepada JP Group, Rabu (11/3).
Ia menjelaskan kapal Gamsunoro saat ini melayani pengangkutan kargo milik konsumen pihak ketiga. Sementara VLCC Pertamina Pride sedang membawa pasokan minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Meski terdapat kapal yang tertahan, Pertamina memastikan rantai pasok dan distribusi energi nasional tetap berjalan dengan baik.
Hal ini didukung oleh sedikitnya 345 armada kapal yang berada di bawah pengelolaan entitas Pertamina Group lainnya.
“Aman. Ada 345 kapal lainnya di bawah pengelolaan Pertamina Group yang menopang rantai pasok dan distribusi energi nasional,” ujarnya.
Pertamina Group bersama pemerintah juga menerapkan pendekatan strategi regular, alternatif, dan emergency dalam menentukan langkah distribusi energi yang paling efektif dan aman.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi serta menjaga kelancaran distribusi di tengah dinamika situasi global.
Di sisi lain, PIS melakukan pemantauan intensif selama 24 jam secara real-time terhadap posisi seluruh armada, kru, dan pekerja.
Koordinasi juga terus dilakukan dengan otoritas maritim serta pihak berwenang di wilayah setempat guna memastikan keamanan awak kapal dan muatan yang diangkut. (*)
Reporter : YASHINTA – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK