Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pengusaha rumah kost yang selama ini identik dengan investasi berbasis aset fisik mulai membuka diri terhadap instrumen investasi digital. Pergeseran ini terlihat dalam forum yang digelar Asosiasi Rumah Kost Indonesia (ARKI) di Yogyakarta, ketika topik aset kripto dan blockchain menjadi bagian dari diskusi pengelolaan keuangan usaha.
Selama bertahun-tahun, model investasi pemilik kost relatif konservatif, membeli lahan, membangun kamar, lalu mengandalkan arus kas dari sewa bulanan. Skema ini dikenal stabil karena berbasis aset nyata.
Namun, di tengah percepatan digitalisasi sektor keuangan, sebagian pelaku usaha mulai mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen berbasis teknologi.
Dalam forum tersebut, perwakilan platform kripto Pintu memberikan paparan mengenai dasar-dasar aset kripto, cara kerja blockchain, hingga pentingnya manajemen risiko.
SVP Strategy & Business PINTU, Andy Putra, mengatakan pihaknya melihat adanya ketertarikan dari pelaku usaha tradisional untuk memahami instrumen digital, bukan sekadar ikut tren.
“Kami melihat anggota ARKI cukup terbuka untuk mempelajari cara kerja investasi aset kripto, termasuk memahami manfaat dan risikonya. Edukasi menjadi penting agar mereka bisa mengambil keputusan secara terukur,” ujar Andy dalam acara tersebut.
Diversifikasi, Bukan Pengganti Properti
Ketua ARKI, Florencia Irena Lipin, menilai diskusi mengenai aset digital menjadi relevan karena pengusaha kost juga perlu memikirkan pengelolaan keuntungan usaha secara lebih luas.
“Pemilik kost selama ini fokus pada aset fisik. Tapi keuntungan usaha bisa dikelola lebih produktif jika mereka memahami berbagai instrumen, tentu dengan pertimbangan risiko,” katanya dalam kesempatan yang sama.
Sejumlah faktor disebut menjadi alasan meningkatnya minat terhadap instrumen digital yakni diversifikasi portofolio, properti memang cenderung stabil, tetapi tetap memiliki risiko seperti tingkat hunian menurun atau biaya operasional meningkat.
Aset digital dinilai sebagai alternatif untuk menyebar risiko, meski dengan karakter yang berbeda. Selain itu, berbeda dengan properti yang membutuhkan waktu lama untuk dijual, aset kripto relatif lebih mudah dicairkan karena diperdagangkan secara digital.
Kemudian, vlockchain juga membuka peluang integrasi dengan sektor properti melalui tokenisasi aset, yakni representasi nilai properti dalam bentuk token digital. Menurut laporan Deloitte Center for Financial Services, pasar tokenisasi properti global diproyeksikan tumbuh dari sekitar USD 300 miliar pada 2024 menjadi US$4 triliun pada 2035.
Meski demikian, para narasumber menekankan bahwa kripto bukan pengganti investasi utama seperti rumah kost. Karakteristiknya jauh berbeda: properti menghasilkan arus kas relatif stabil, sementara kripto memiliki volatilitas tinggi dan dipengaruhi dinamika pasar global.
Andy Putra menambahkan, pendekatan yang ditekankan dalam forum tersebut adalah pemahaman risiko dan penggunaan dana siap investasi.
“Kami selalu menyarankan agar calon investor menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, melakukan riset mandiri, serta memahami profil risiko masing-masing,” lanjutnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI