Buka konten ini

Anambas Foundation membuka Program Suara Pulau untuk mengajak masyarakat Kepulauan Anambas menyampaikan cerita tentang lingkungan, budaya, dan kehidupan pesisir dari sudut pandang mereka sendiri. Melalui pelatihan storytelling, mentoring, dan bootcamp, warga diharapkan mampu menjadi penyampai cerita agar potensi dan isu lingkungan Anambas dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat global.
DI gugusan pulau yang tenang di utara Kepulauan Riau, cerita tentang laut, hutan, dan kehidupan pesisir sebenarnya tidak pernah habis. Setiap pagi, nelayan berangkat melaut. Anak-anak berangkat sekolah melewati jalan kampung yang menghadap laut.
Sementara angin dari samudra membawa kisah yang hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang tinggal di sana.
Namun, tidak semua kisah dari Kepulauan Anambas sampai ke telinga publik. Banyak cerita tentang lingkungan, budaya, hingga kehidupan masyarakat pesisir justru disampaikan oleh orang luar. Padahal, warga setempatlah yang setiap hari hidup berdampingan dengan laut, hutan, dan pulau-pulau kecil di wilayah itu.
Berangkat dari kegelisahan itulah Anambas Foundation membuka Program Suara Pulau. Program ini mengajak masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas untuk menjadi pencerita bagi daerahnya sendiri—menyampaikan isu lingkungan sekaligus potensi pulau kepada publik yang lebih luas.
Ketua Anambas Foundation, Davina Mariskova, mengatakan program tersebut membawa semangat sederhana namun kuat: memberi ruang bagi masyarakat untuk berbicara tentang daerahnya dengan suara mereka sendiri.
Tema yang diusung dalam program ini adalah “Suara Pulau: Saatnya Cerita Anambas Disuarakan oleh Kita Sendiri.”
Menurut Davina, selama ini masyarakat Anambas sering hanya menjadi pendengar dari cerita tentang daerahnya. Padahal, banyak pengalaman, pengetahuan lokal, dan cerita kehidupan yang hanya dimiliki oleh warga yang tinggal di sana.
“Pesan dari tema ini adalah mengajak masyarakat untuk tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi juga menjadi penyampai cerita tentang daerahnya,” ujar Davina, Selasa (10/3).
Ia menuturkan, Anambas memiliki kekayaan cerita yang luar biasa. Mulai dari kehidupan laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, kondisi hutan di pulau-pulau kecil, hingga kehidupan masyarakat pesisir yang penuh dengan nilai tradisi.
Bagi Davina, semua kisah itu penting untuk disampaikan. Tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai cara memperkenalkan wajah asli Anambas kepada dunia luar.
Melalui Program Suara Pulau, peserta akan diajak belajar berbagai keterampilan komunikasi. Mereka akan memahami bagaimana menyusun cerita, menyampaikan pesan secara efektif, hingga mengemas isu lingkungan agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Program ini tidak hanya berfokus pada teori. Peserta juga akan mendapatkan bimbingan langsung melalui mentoring profesional dan bootcamp hybrid yang memadukan kegiatan daring dan tatap muka.
“Ini menjadi wadah pembelajaran bagi masyarakat untuk memahami teknik komunikasi publik sekaligus cara menyampaikan isu lingkungan melalui cerita,” jelasnya.
Selain mendapatkan sertifikat resmi, peserta juga berkesempatan berkembang menjadi eco-influencer lokal. Peran ini diharapkan mampu mendorong munculnya tokoh-tokoh muda yang aktif menyuarakan isu lingkungan dari daerahnya sendiri.
Program Suara Pulau terbuka bagi masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Kepulauan Anambas dengan rentang usia 17 hingga 45 tahun. Peserta yang mendaftar juga akan mendapatkan akses kelas daring secara gratis.
Davina berharap program ini tidak hanya melahirkan pencerita baru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Sebab pada akhirnya, cerita tentang pulau tidak hanya soal keindahan laut atau hamparan pasir putih. Di baliknya ada kehidupan, harapan, dan masa depan masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam.
Melalui Suara Pulau, Anambas Foundation ingin memastikan satu hal: bahwa cerita tentang Anambas akan terus hidup—dan kali ini, disampaikan langsung oleh orang-orang yang tinggal dan tumbuh bersama pulau itu. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : RATNA IRTATIK