Buka konten ini

WAKIL Menteri Perdagangan Dyah Roro Esty Widya Putri mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Batam untuk meningkatkan kapasitas usaha agar mampu menembus pasar internasional. Hal tersebut disampaikannya saat berdialog dengan para eksportir dan pelaku usaha di Mall Pelayanan Publik (MPP) Batam, Senin (9/3).
Dalam pertemuan tersebut, Roro menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki tiga target utama dalam mendorong pertumbuhan sektor perdagangan nasional. Target pertama adalah mengamankan pasar dalam negeri agar produk lokal, khususnya dari UMKM, memiliki ruang yang luas di pasar domestik.
Menurutnya, pemerintah terus berupaya membantu UMKM memasarkan produknya di dalam negeri, salah satunya dengan menghubungkan pelaku usaha dengan jaringan ritel modern.
“UMKM yang fokus menjual produknya di pasar dalam negeri kami bantu terhubung dengan ritel modern. Dengan begitu produk mereka dapat dipasarkan di berbagai gerai di sejumlah daerah,” ujarnya.
Target kedua adalah memperluas pasar ekspor melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional atau Free Trade Agreement (FTA). Roro menilai perjanjian perdagangan tersebut memiliki peran penting dalam membuka akses pasar bagi produk Indonesia ke luar negeri.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat kesenjangan informasi antara perjanjian dagang yang telah disepakati pemerintah pusat dengan pemanfaatannya oleh pelaku usaha di daerah.
“Kami melihat masih ada gap antara perjanjian dagang yang sudah disepakati di tingkat pusat dengan pemanfaatannya oleh pelaku usaha di daerah. Karena itu sosialisasi perlu terus dilakukan agar pelaku usaha mengetahui peluang pasar ekspor,” jelasnya.
Untuk memperluas pemanfaatan perjanjian dagang tersebut, Kementerian Perdagangan juga bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dalam memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada pelaku usaha.
Target ketiga adalah mendorong UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Pemerintah, kata dia, memberikan pendampingan bagi UMKM yang telah siap melakukan ekspor, baik dari sisi produksi, kapasitas usaha, maupun keberlanjutan bisnis.
“UMKM yang kami dorong untuk ekspor adalah yang sudah siap dari sisi produksi, kapasitas, dan keberlanjutan usaha. Sehingga ketika ada permintaan dari pasar luar negeri, mereka mampu memenuhinya,” katanya.
Saat ini, Kementerian Perdagangan memiliki jaringan promosi perdagangan di 33 negara melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Jaringan tersebut dimanfaatkan untuk mempromosikan produk-produk Indonesia di pasar internasional.
Roro menambahkan, selama lima tahun terakhir Indonesia juga mencatat surplus neraca perdagangan yang cukup signifikan. Nilai surplus perdagangan bahkan mencapai sekitar 41,05 miliar dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, ekspor Indonesia selama ini masih didominasi komoditas besar seperti minyak sawit mentah (CPO), produk energi, serta besi dan baja. Namun, tren ekspor produk UMKM juga terus menunjukkan peningkatan.
Beberapa komoditas yang mencatat tren positif di pasar global antara lain kopi, kakao, serta produk halal seperti makanan, minuman, hingga kosmetik.
“Produk kopi Indonesia saat ini sedang naik daun di pasar internasional. Begitu juga kakao dan berbagai produk halal yang permintaannya terus meningkat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Roro juga menyoroti posisi strategis Batam yang berada dekat dengan Singapura dan Malaysia. Menurutnya, kondisi geografis tersebut menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar ekspor.
“Batam memiliki lokasi yang sangat strategis, dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha di daerah ini untuk mengembangkan pasar ekspor,” katanya.
Keberadaan Export Center di Batam diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk memperoleh informasi terkait peluang pasar, perjanjian dagang, hingga pendampingan ekspor.
“Harapannya fasilitas ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha. Pemerintah hadir untuk membantu UMKM agar tidak hanya naik kelas, tetapi juga mampu menembus pasar internasional,” tutupnya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI