Buka konten ini

Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batam Kota (Bidang Tabligh, Tarjih, dan Tajdid
DALAM konteks keindonesiaan ada sebuah kebanggaan relegi dimana Agama selalu dijadikan sebagai ikon penting dalam berbagai acara resmi kenegaraan. Peringatan malam Nuzulul Qur’an (lazim disebut malam pertama kali diturunkannya al-qur’an) juga dijadikan ikon penting kenegaraan yang umumnya selalu diisi pesan tentang pentingnya merawat kebhinnekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber bahwa peringatan Nuzulul Qur’an pertama kali di Indonesia secara resmi, khususnya di Istana Negara, kuat diduga berlangsung pada tahun 1953, dengan Buya Hamka yang membentangkan sejarah turunnya Al-Qur’an.
Meskipun demikian, tradisi memperingati turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadhan sudah lama mengakar di kalangan umat Muslim Indonesia.
Tradisi ini dimulai atas inisiatif Presiden Soekarno setelah menerima saran dari para ulama, termasuk K.H. Wahid Hasyim (Menteri Agama saat itu). Lalu apa sebenarnya arti penting dari peringatan Nuzulul Qur’an tersebut, baik dalam konteks keislaman maupun keindonesiaan.
Dahulu pada era tahun 1980-an, seorang Da’i kondang Almarhum K.H. Zainuddin MZ pernah menyatakan, bahwa kemerdekaan Indonesia itu diperoleh karena peran besar umat Islam. Kyai yang dikenal dengan sebutan Da’i Sejuta Umat ini menyatakan dalam berbagai kesempatan ceramahnya, bahwa ada 3 tujuhbelas yang tidak boleh dilupakan dalam membangun Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945, 17 Rakaat Shalat Wajib 5 waktu dan 17 Ramadhan sebagai malam nuzulul qur’an. Ketiga 17 tersebut setidaknya merupakan sebuah spirit bahwa Islam merupakan bagian penting mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Almarhum Ustadz Jazir ASP (Tokoh utama Masjid Jogokaryan Yogyakarta) dalam salah satu ceramahnya juga pernah menyatakan, bahwa Presiden Soekarno telah meletakkan simbol peranan Islam itu dalam bentuk penamaan masjid yang pernah diprakarsainya. Adapun masjid tersebut adalah Masjid Istiqlal (Masjid Kemerdekaan) di Jakarta, Masjid Asyuhada di Yogyakarta, Masjid Baiturrahim di istana Merdeka Jakarta, dan Masjid Salman Alfarisi di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).
Presiden Soekarno seakan ingin mengatakan, bahwa Istiqlal (Kemerdekaan Indonesia) dibangun diatas darah para Syuhada (pahlawan yang wafat dalam perang kemerdekaan). Setelah merdeka kita mempunyai Negara Indonesia, yaitu Baiturahim sebagai rumah kasih sayang Allah. Selanjutnya untuk merawat kesatuan dan kemajuan Indonesia kita membutuhkan tokoh pemuda seperti Salman Alfarisi Sahabat Nabi Muhammad Saw, yaitu serorang pemuda yang cukup terkenal kecerdasannya.
Memperingati Nuzulul Qur’an setidaknya merupakan refleksi untuk membangun peradaban Indonesia yang berkemajuan dengan berdasarkan konsep ilahiyah sebagaimana tuntutan wahyu dalam Al-Qur’an. Hal itu perlu dilakukan agar tradisi keagamaan kita tidak sekedar simbol dan acara siremonial semata.
Dalam perpekstif Islam kebenaran dan keabsahan Al-Qur’an adalah otoritatif yang tidak terbantahkan lagi. Namun pertanyaan penting selanjutnya adalah bagaimana menerjemahkan Al-Qur’an tersebut sehingga masyarakatnya memiliki peradaban berkemajuan atau dalam bahasa lain menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab adalah bagaimana agar umat Islam dapat membumikan Al-Qur’an. Artinya menerjemahkan wahyuAl-Qur’an sebagai produk langit menjadi konsep nyata yang membumi. Dalam kata lain kita harus terus menerjemahkan pesan moral Al-Qur’an itu tetap Shalihun likulli zaman wa makanin, bahwa Al-Qur’an itu sesuai atau selalu relevan, dan berlaku untuk segala zaman (waktu) dan segala tempat.
Lalu apa relevansinya peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini dengan merajut ukhuwah dalam membangun peradaban bangsa?. Kita semua telah sama maklum bahwa Islam di Indonesia merupakan agama yang mayoritas. Para ulama yang menjadi pendiri negara ini telah menempatkan konsep-konsep subtansi Al-Qur’an sebagai dasar pandangan hidup (Weltanschauung) dalam hidup berbangsa dan bernegara yang kita kenal sebagai Pancasila. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan oleh Rocy Gerung, bahwa Pancasila adalah sebagai falsafah atau pandangan hidup.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) (Sensus Penduduk 2010), Indonesia memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa. Meskipun sensus jangka panjang (long form) BPS 2020 mencatat lebih dari 1.200 suku, angka referensi utama yang sering digunakan adalah 1.340 suku bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara, menjadikannya salah satu negara paling beragam secara budaya di dunia pada 2025.
Islam tentunya cukup berperanserta merawat keberagaman Indonesia tersebut melalui konsep ukhuwah islamiyah. Kata Emha Ainun Nadjib makna ukhuwah islamiyah sering direduksi maknanya sebagai “Ukhuwatul Muslimin” atau “Ukhuwatun Bainal Muslimin” sehingga artinya menjadi kelihatan eksklusif, yaitu persaudaraan sesama umat islam. Padahal makna sejatinya adalah persaudaraan dengan prinsip keislaman, pola keislaman dan nafas keislaman. Dengan makna sejati ini Islam dalam konteks keindonesiaan kelihatan lebih inklusif, egaliter dan merangkul semua kalangan, baik orang islam maupun yang bukan Islam.
Dalam suatu kesempatan Prabowo Subianto, yang saat itu Ketua Umum Gerindra, mengutip buku Ghost Fleet yang skenarionya menggambarkan Indonesia tidak ada lagi pada tahun 2030. Meskipun hal tersebut merupakan narasi fiksi, Mahfud MD menanggapi bahwa, bahwa hal itu bisa terjadi jika penegakan hukum dan keadilan tidak ditegakkan.
Dalam kesempatan yang lain Presiden Prabowo Subianto pernah menyampaikan bahwa Indonesia adalah masyarakat paling bahagia di dunia merujuk pada hasil Global Flourishing Study (GFS), sebuah riset kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup. Pernyataan tersebut tentunya masih menuai kritikan, sebab Studi ini menyoroti keunggulan Indonesia dalam relasi sosial, kebersamaan, dan makna hidup, meskipun secara ekonomi masih berkembang.
Sebaliknya negara tetangga kita yang dikenal hebat Singapura menunjukkan sikap sebaliknya. Di negeri yang dikenal dengan budaya tertib tersebut dari dulu sudah menggalakkan kampanye kepada warganya untuk tersenyum, yaitu ”Smile Singapore” Pada tahun 1980-an, Singapura pernah meluncurkan kampanye ”Smile Singapore” untuk mendorong warga bersikap lebih ramah dan terbuka. Namun patut diduga kampanye tersebut dilakukan karena masyarakat negara yang didirikan oleh Sir Stamford Raffles dari Inggris tersebut telah mengalami tekanan hidup yang berat sehingga tidak lagi mudah tersenyum.
Di Indonesia senyum adalah bagian dari tradisi masyarakat yang tidak perlu dikampanyekan, sebab tersenyum adalah bagian dari sedekah yang diajarkan oleh agama Islam. Kyai Haji Ahmad Dahlan telah mencetuskan “Theologi Al-’Ashr” jauh sebelum organisasi Muhammadiyah resmi berdiri pada 18 November 1912. Dalam bahasa kekinian “Theologi Al-’Ashr” adalah sebuah landasan etos disiplin waktu, etos kerja, dan aksi sosial membangun peradaban Islam yang berkemajuan.
Theologi Al-’Ashr tentunya merupakan perwujudan nyata spirit surat Al-‘Ashr. Surat tersebut merupakan surat ke-103 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 3 ayat, dan tergolong surat Makkiyah. Untuk itu peringatan Nuzulul Qur’an pada tahun 1447 H/2026 M ada baiknya kita aktualisasikan spirit Theologi Al-’Ashr. Dalam bahasa gampangnya theologi tersebut adalah theologi yang menempatkan Islam sebagai agama yang berkemajuan. Sebab dengan menjadikan Islam sebagai agama yang berkemanjuan berarti kita telah menerjemahkan Al-Qur;an sebagai kekuatan yang ‘Shalihun likulli zaman wa makanin” bahwa Al-Qur’an itu sesuai atau selalu relevan, dan berlaku untuk segala zaman (waktu) dan segala tempat. (*)