Buka konten ini

BENGKONG (BP) – Krisis air bersih kembali menghantui warga Batam. Setelah sebelumnya dikeluhkan warga Sengkuang, Kecamatan Batuampar, kini giliran Bengkong Permai yang mengalami aliran air mati total hampir sepekan, tepat di tengah bulan Ramadan.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga karena kebutuhan air meningkat untuk sahur, berbuka, hingga keperluan ibadah.
“Di Bengkong Permai sudah seminggu ini total mati air. Banyak warga kecewa, apalagi sedang puasa,” ujar Maudi, warga Bengkong, Selasa (3/3).
Tak hanya mengganggu aktivitas mandi dan mencuci, krisis air juga menyulitkan keluarga yang memiliki anak kecil dan bayi. “Stres tak bisa mencuci. Kasihan yang puasa dan punya bayi,” kata Fudin, warga lainnya.
Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli air galon tambahan atau menumpang ke rumah kerabat demi memenuhi kebutuhan dasar. Namun, tidak semua warga memiliki pilihan tersebut.
Berulangnya gangguan ini kembali memunculkan pertanyaan soal manajemen distribusi air bersih di Batam, terutama di wilayah yang selama ini dikenal sebagai stress area atau daerah bertekanan air rendah.
Menanggapi keluhan tersebut, Humas PT Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bengkong dan sekitarnya. Ia menjelaskan, bersama PT Air Batam Hulu (ABHu), pihaknya memahami ketidaknyamanan warga dan menjadikan persoalan ini sebagai perhatian serius.
Menurutnya, secara umum Batam tidak mengalami kekurangan sumber air baku. Dari tujuh waduk yang beroperasi, total produksi air mencapai sekitar 4.500 liter per detik dan dinilai mencukupi kebutuhan.
“Permasalahan bukan di sumber air, tetapi pada jaringan distribusi dan infrastruktur yang membutuhkan penguatan serta investasi bertahap,” ujarnya.
Sebagai operator operasi dan pemeliharaan, ABH dan ABHu bertugas menjaga sistem jaringan air minum tetap optimal, termasuk meningkatkan kapasitas suplai ke Bengkong dan sekitarnya. Dalam pelaksanaannya, perusahaan berkoordinasi dengan BP Batam melalui Badan Usaha SPAM Batam selaku pemilik aset dan pengambil kebijakan strategis.
Ginda mengungkapkan, Bengkong Permai masih masuk kategori stress area yang menjadi persoalan cukup lama. Dari 34 titik stress area sebelumnya, kini tersisa 18 titik yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Sebagai solusi darurat, perusahaan menyiapkan distribusi air melalui mobil tangki. Warga dapat mengajukan permintaan melalui RT/RW setempat atau saluran resmi ABH.
Sementara itu, solusi jangka panjang tengah dikerjakan BP Batam bersama BU SPAM Batam, antara lain pembangunan pipa tambahan dari waduk menuju Tangki Ozon sebagai pusat distribusi utama wilayah Bengkong. Tangki tersebut memiliki kapasitas total 12.000 meter kubik. Jika sistem tambahan berfungsi optimal, suplai air diharapkan lebih stabil.
Di tengah persoalan distribusi yang berulang, skema pelibatan mitra sebagai investor dalam pengembangan layanan air bersih juga tengah dibahas BP Batam. Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, sebelumnya menyebut proyek dapat dieksekusi mitra tanpa menunggu dana PNBP maupun APBN/APBD, dengan pengembalian investasi melalui skema water charge berdasarkan volume air terjual.
Namun, mantan anggota DPRD Kepri, Uba Ingan Sigalingging, menilai penjelasan tersebut belum menjawab persoalan mendasar mengenai arah pengelolaan air bersih ke depan. Ia mempertanyakan apakah pengelolaan akan dilelang ulang atau tetap dilanjutkan bersama PT Moya Indonesia.
“Jika pengelolaan masih dijalankan oleh PT Moya, itu tidak akan mengubah kondisi yang sudah berjalan. BP Batam seharusnya menunjuk pengelola baru,” ujar Uba.
Ia menilai model konsesi antara Otorita Batam dan PT Adhya Tirta Batam (ATB) dahulu memiliki kerangka yang lebih jelas dari sisi pembiayaan dan rencana pengembangan jangka panjang.
Sementara itu, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyebut amandemen perjanjian kerja sama dengan PT Moya masih dibahas di Biro Hukum.
“Masih proses di Biro Hukum. Kami lakukan secepatnya,” ujarnya.
Di tengah pembahasan tersebut, warga berharap persoalan klasik distribusi air tidak terus berulang, terutama saat momentum penting seperti Ramadan, ketika kebutuhan air bersih menjadi semakin vital bagi masyarakat. (*)
Reporter : M SYA’BAN – ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO